Logo Bloomberg Technoz

"Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yoy pada April 2026, antara lain: beras, daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, jeruk, tomat, daging sapi, ikan segar, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, tarif angkutan udara, mobil, tarif pulsa ponsel, uang kuliah akademi/PT, uang sekolah SD, nasi dengan lauk, dan emas perhiasan," sebut Laporan BPS, Senin (4/5/2026). 

Sementara, komoditas yang menyumbang inflasi secara bulanan antara lain, minyak goreng, beras, tomat, gula pasir, jengkol, kentang, tempe, semangka, tahu mentah, bawang merah, jeruk, SKM, bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, laptop/notebook, telepon seluler, ayam goreng, dan nasi dengan lauk.

Tekanan eksternal dan gejolak geopolitik yang menyebabkan gangguan pasokan belakangan ini sepertinya mulai tertransmisikan pada kenaikan transportasi udara, kenaikan harga pangan, dan harga emas yang dijadikan aset safe haven kala ketidakpastian meningkat. 

Inflasi tahunan tertinggi terjadi pada subkelompok jasa angkutan penumpang sebesar 6,46% dan terendah terjadi pada subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi sebesar 0,26%. 

Tekanan dari sisi jasa juga membuat inflasi pada komponen transportasi menyumbang 1,61% yang didorong oleh kenaikan harga tiket pesawat. Hal ini mengindikasikan adanya cost-push inflation dari transportasi atau logistik sebagai imbas dari harga energi global. 

Konsumsi Turun

Di sisi lain, inflasi bulanan April 2026 hanya 0,13% jauh lebih rendah dari capaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1,17%. Hal ini terjadi karena beberapa komoditas pangan justru tercatat mengalami deflasi secara bulanan, dan mengindikasikan bahwa sisi permintaan sedang melemah, atau mungkin tidak terlalu agresif termoderasi oleh turunnya permintaan pasca lebaran. 

"Komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi yoy, antara lain: cabai merah, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, kentang, kelapa, daging babi, wortel, sabun detergen bubuk, pengharum cucian/pelembut, pembersih lantai, bensin, tarif angkutan antar kota, dan uang sekolah SMA," sebut Laporan BPS, Senin (4/5/2026).

Secara bulanan, beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, ikan segar, kacang panjang, kangkung, bayam, tarif angkutan antar kota, dan emas perhiasan juga menyumbang deflasi. 

Ilustrasi Pasar Tradisional di Sri Lanka (Sumber: Bloomberg)

Deflasi pada beberapa komoditas pangan ini menandakan bahwa dorongan konsumsi masyarakat yang tidak cukup kuat untuk menciptakan kenaikan harga yang signifikan. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut deflasi terjadi karena adanya normalisasi harga setelah lebaran, "di tengah permintaan yang anemic," kata Lionel. 

Anemic demand adalah istilah untuk menggambarkan bahwa permintaan lemah, dan tidak kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau kenaikan harga. 

Hal ini juga tergambar dari kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga. Meski dalam beberapa subkelompok tercatat mengalami inflasi, namun pada subkelompok barang dan layanan untuk pemeliharaan rumah tangga rutin sebesar 0,27%. 

"Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi yoy, yaitu: sabun detergen bubuk, pengharum cucian/pelembut, dan pembersih lantai masing-masing sebesar 0,01%," kata BPS. 

Masyarakat Menahan Belanja

Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), deflasi yang terjadi akibat ada permasalahan dari sisi permintaan karena masyarakat cenderung menahan belanja. 

Ia menyebut kelas atas cenderung menahan belanja karena ada kenaikan harga minyak, ketidakpastian arah kebijakan fiskal, kelemahan nilai tukar rupiah, serta adanya krisis yang disebabkan oleh perang. 

Sementara, kelas bawah meski memiliki jaring pengaman sosial, tetapi mereka juga ikut tertekan dengan kenaikan harga sehingga menahan konsumsi. Namun tekanan terbesar datang dari kelas menengah yang ikut mengurangi konsumsinya. 

Suasana pengunjung pusat perbelanjaan di Mal Kuningan City, Jakarta, Senin (13/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

"Situasi ini dikhawatirkan akan membuat pelaku usaha merespons dengan mengurangi kapasitas produksi, melakukan perubahan strategi penjualan, bahkan melakukan efisiensi," ujar Bhima. 

Jika tidak segera ditangani dengan menggelontorkan paket kebijakan stimlulus seperti subsidi transportasi publik, atau menurunkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 9%, konsumsi rumah tangga akan terus melemah. 

Selain itu, sektor manufaktur juga membutuhkan stimulus dalam bentuk subsidi tarif listrik industri 40%, paling tidak selama 6 bulan dan dibantu untuk mencari alternatif bahan baku di tengah gangguan pasokan yang ada saat ini. 

Bhima memproyeksikan, jika pemerintah tidak mengeluarkan paket kebijakan stimulasi ekonomi, konsekuensinya adalah terjadi perlambatan roda perekonomian khususnya dari motor konsumsi rumah tangga. Ia memprediksi jika kondisi ini berlanjut maka Indonesia akan mendekat pada resesi teknikal pada kuartal III atau IV 2026. 

Lipstic Effect

Meski dalam beberapa subkelompok mengalami deflasi, pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru melonjak 11,43%. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok perawatan pribari lainnya sebesar 29,29%, dan terendah terjadi pada subkelompok perlindungan sosial sebesar 0,83%. 

Bhima menilai, kenaikan pada kelompok ini terjadi lantaran permintaan dari sisi kosmetik, skin care atau perawatan tubuh atau personal care cenderung meningkat. Kondisi ini menggambarkan adanya fenomena lipstic effect

Pengunjung memenuhi pameran kosmetik Jakarta X Beauty 2023 di JCC. Kamis (14/12/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

"Semakin ekonomi tertekan, orang pelariannya untuk mendapatkan kemewahan kecil yaitu dengan merias diri, dengan beli kosmetik. Jadi kompetisi  di sektor kosmetik juga jadi semakin menarik karena banyak pemain baru," kata Bhima.

Akan tetapi, bahan baku industri ini juga mengandalkan minyak mentah dan terdampak dari tekanan harga bahan baku. Sehingga inflasi yang terjadi dapat menggambarkan keduanya, yaitu kenaikan harga dan adanya dorongan permintaan. 

Biaya Pendidikan Naik

Data BPS juga mencatat adanya inflasi yang terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 1,14%. Dari sempat subkelompok, tiga di antaranya mengalami inflasi seperti subkelompok pendidikan lainnya naik 3,19%, diikuti pendidikan dasar dan anak usia dini 2,35%, subkelompok pendidikan tinggi sebesar 1,68%. Sedangkan subkelompok pendidikan menengah mengalami deflasi 1,33% secara tahunan. 

Suasana belajar di sebuah sekolah dasar di Tangerang, Banten (Dok. Istimewa)

Secara bulanan, kelompok pendidikan dari subkelompok uang kuliah akademi atau perguruan tinggi naik 0,03%, dan uang sekolah dasar 0,02%. Sedangkan sekolah menengah atas tercatat deflasi 0,03%. 

Kondisi ini ditopang oleh musim tahun ajaran baru yang akan kembali berlaku pada Juni mendatang. Umumnya untuk tahun ajaran baru bagi sektor pendidikan swasta sudah mulai terjadi dengan pendaftaran yang lebih awal. 

"Sekolah swasta dan kelompok atas memang makin diminati, mereka mengeluarkan uang lebih besar dan adanya kenaikan permintaan, sementara sekolah negeri dari sisi permintaan cenderung menurun," kata Bhima. 

Bhima menilai inflasi pendidikan yang semakin tinggi ini menunjukkan adanya ketimpangan akses pendidikan, sebab inflasinya cenderung didorong oleh sekolah swasta (privatisasi) yang cenderung eksklusif. 

Ketimpangan Antar Daerah

Jika melihat data BPS, terlihat adanya ketimpangan yang terjadi antar daerah. Misalnya, Papua Barat mengalami inflasi 5%, sedangkan pulau Jawa sebesar 2,42%, dan Sumatera 2,42%. 

Jika dibedah kembali, di pulau Sumatera sendiri ada inflasi juga tidak merata, seperiti Aceh mengalami inflasi tertinggi 3,88% dan paling kecil Lampung hanya 0,53%. 

Di pulau Jawa, inflasi tertinggi terjadi di ujung pulau bagian timur seperti Jawa Timur yang mengalami inflasi 2,85%, sementara DKI Jakarta (2,21%) dan Jawa Tengah (2,11%) serta Banten (2,14) mengalami inflasi lebih rendah. 

Ketimpangan antar wilayah ini mempertegasadanya persoalan struktural yakni masih adanya disparitas harga karena ada masalah infrastruktur yang memengaruhi ongkos distribusi. 

(dsp/aji)

No more pages