Dinamika di Timur Tengah masih menjadi sorotan utama pelaku pasar. Sejatinya ada kabar baik, di mana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan pihaknya akan mengarahkan kapal-kapal yang tidak terkait konflik untuk melewati Selat Hormuz.
“Pergerakan kapal berarti membebaskan manusia, perusahaan, dan negara-negara yang tidak bersalah. Mereka adalah korban keadaan,” cuit Trump di media sosial.
Trump menambahkan, Washington meyakini bahwa dialog dengan Iran akan menghasilkan sesuatu yang “sangat ;positif untuk semua.”
Namun sepertinya investor belum sepenuhnya yakin. Upaya damai AS-Iran yang putus-sambung membuat pelaku pasar masih memasang mode defensif.
Sejak perang meletus pada akhir Februari lalu, harga emas sudah ambruk sekitar 12%. Ini karena perang menyebabkan lonjakan harga energi.
Jika situasi Timur Tengah tidak kunjung membaik, maka dunia akan dihantui risiko inflasi tinggi akibat kenaikan harga energi. Akibatnya, bank sentral akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)




























