“Sekarang Amerika buka opsi batu bara, di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta kita untuk 20 juta per tahun,” ujar Bahlil.
“Dia suruh kita memakai energi yang mahal sementara dia memakai energi yang murah. Saya bilang ini model apa. Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu, ini bicara tentang survival mode kita bicara tentang efisiensi,” lanjut Bahlil.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan volume ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai 39,93 juta ton atau terkoreksi 3,66% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 405,76 juta ton. Sementara berdasarkan volumenya, ekspor batu bara sepanjang 2025 minus 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).
Torehan kinerja ekspor komoditas emas hitam itu terpaut lebar dari capaian sepanjang periode yang sama tahun sebelumnya di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun. Kemudian negara tujuan utama ekspor batu bara terdiri dari; India, China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Filipina, Thailand, Hongkong, hingga Spanyol.
Adapun, Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara untuk pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) mencapai 254 juta ton atau 32%. Adapun, stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.
(wep)

























