Meski demikian, BRI tetap membuka ruang penyesuaian. Perseroan menegaskan akan terus memantau dinamika eksternal dan bersikap adaptif apabila tekanan global meningkat.
Dari sisi manajemen risiko, Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, mengungkapkan bahwa stress test dilakukan secara rutin dengan berbagai parameter makroekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi (GDP), inflasi, suku bunga acuan, nilai tukar, hingga yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun.
Dalam kondisi terkini, harga minyak menjadi salah satu variabel utama yang diperhatikan. BRI memproyeksikan kondisi akan membaik pada semester II-2026, seiring ekspektasi kenaikan harga minyak pada kuartal III.
Perseroan memperkirakan rata-rata harga minyak sepanjang 2026 tidak akan melampaui US$100 per barel. Namun, skenario pesimistis tetap dimasukkan dalam stress test.
“Hasil stress test menunjukkan posisi permodalan dan likuiditas masih relatif memadai untuk menyerap potensi tekanan, termasuk jika harga minyak mencapai US$100,” jelas Ety.
(dhf)































