Perwakilan Danantara belum menanggapi permintaan komentar hingga berita ini diturunkan.
Adapun, Eramet SA dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan tengah mencari pendanaan sekitar €500 juta dari penerbitan saham untuk meningkatkan modal perseroan.
Transaksi tersebut direncanakan dilakukan pada paruh kedua 2026 dan saat ini sudah mendapatkan persetujuan dari dewan direksi.
“Dalam konteks ini, diskusi dapat dilakukan dengan calon investor yang berpotensi berpartisipasi dalam peningkatan modal yang direncanakan dan membantu mendukung pertumbuhan jangka panjang Grup,” tulis Eramet dalam keterangan resminya, pekan lalu.
Sekadar catatan, produksi bijih nikel PT WBN sebesar 12 juta wet metric ton (wmt) bakal habis pada pertengahan Mei 2026, sehingga perseroan sedang mempersiapkan penutupan tambang untuk dilakukan perawatan pada bulan yang sama.
Langkah tersebut dilakukan sambil mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Adapun, Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) sebelumnya memang telah meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Eramet untuk menjajaki pembentukan platform investasi di sektor nikel, dari operasi hulu hingga hilir.
Penandatangan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, di Istana Negara pada Rabu (28/5/2025).
Dalam keterangan pers bersama, kemitraan itu disebut bertujuan untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.
Dijelaskan bahwa Eramet bersama-sama dengan Danantara dan INA akan melakukan penilaian awal untuk mengidentifikasi proyek yang akan dipilih untuk memaksimalkan ekosistem Indonesia.
Dalam perkembangannya, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet saat itu menyatakan tidak dapat membeberkan perkembangan pembahasan MoU tersebut secara mendetail sebab kerja sama tersebut masih dalam pembahasan.
Akan tetapi, dia memastikan Eramet masih terus membahas proyek-proyek yang dapat dikembangkan bersama dengan lembaga investasi Tanah Air tersebut. Dalam hal ini, Weda Bay Nickel (WBN) turut dilibatkan dalam diskusi.
“Kami sedang berdiskusi dengan Danantara dan INA untuk bekerja sama. Jelas, Weda Bay Nickel terlibat dalam diskusi ini,” kata Baudelet dalam taklimat media, di Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025).
Sebelum itu, Baudelet sempat menyatakan perseroan berencana menggandeng Danantara dalam proyek hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
Baudelet mengatakan pendekatan tersebut bertujuan untuk menjembatani relasi RI dengan Eropa dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Bagaimanapun, Eramet belum bisa mendetailkan proyek apa yang akan dikerjasamakan perseroan dengan Danantara, berikut potensi nilai investasinya di Weda Bay, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
“Kerja sama dengan Danantara berpotensi menjadi peluang strategis bagi Eramet untuk memperkuat posisinya dalam sektor mineral kritis Indonesia, sekaligus mempererat hubungan antara Eropa dan Indonesia dalam rantai pasok baterai EV,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (6/5/2025).
Di sisi lain, CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya terbuka dengan tawaran investasi Eramet di Weda Bay untuk mempertebal portofolio hilirisasi tambang nikel korporasi Prancis itu di Maluku Utara.
Rosan menuturkan Eramet berkomitmen untuk kembali melanjutkan rencana hilirisasi bijih nikel yang saat ini dioperasikan PT Weda Bay Nickel (WBN).
Hanya saja, kata Rosan, Danantara masih mengkaji penawaran kerja sama yang diajukan Eramet tersebut. “Karena mereka juga salah satu, mungkin yang terbesar di Eropa untuk investasi di hilirisasi ini,” tuturnya, medio April 2025.
Weda Bay Nickel telah beroperasi sejak 2019 melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan akan beroperasi hingga 2069.
Perusahaan ini dioperasikan oleh Thingshan Group, perusahaan asal China yang memiliki porsi 51,2% saham, Eramet (asal Prancis) 37,8%, dan sisanya di miliki oleh perusahaan pelat merah Indonesia, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam dengan porsi 10%.
(wdh)





























