Logo Bloomberg Technoz

Dari segi harga rata-rata penjualan emas, pada periode I-2026 tercatat sebesar US$4.893/ons atau naik 59,3% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Hasil keuangan kuartal pertama kami mencerminkan kekuatan portofolio kami yang terdiversifikasi, dengan pertumbuhan pendapatan, arus kas, dan laba dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu, meskipun terjadi pengurangan kapasitas di operasi kami di Indonesia,” kata Presiden dan Direktur Utama FCX Kathleen Quirk dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Dalam laporan keuangannya, FCX mengungkapkan penjualan tembaga dan emas Freeport Indonesia yang lebih rendah terjadi gegara tingkat operasi tambang lebih rendah setelah adanya insiden longsor di Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.

Setelah insiden longsor hingga operasional kembali ke kapasitas normal, sebagian biaya produksi dan pengiriman Freeport Indonesia bakal diakui sebagai biaya fasilitas menganggur yang tidak dapat diinventarisasi.

“Biaya fasilitas menganggur dan pemulihan, yang tidak termasuk dalam unit net cash credits PTFI, berjumlah US$406 juta pada kuartal I-2026,” tulis FCX.

FCX juga menyampaikan penjualan tembaga dan emas 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan estimasi awal tahun sebesar 0,9 miliar pon tembaga dan 0,8 juta ons emas.

Kondisi tersebut mencerminkan proyeksi keterlambatan dalam mencapai tingkat produksi penuh tambang bawah tanah GBC.

Sementara volume produksi tembaga dan emas 2026 diperkirakan melebihi volume penjualan, kondisi tersebut dinyatakan mencerminkan penangguhan sekitar 100 juta pon tembaga dan 50.000 ons emas terkait persediaan yang disimpan di fasilitas peleburan PTFI.

“Tim global Freeport berfokus pada pemulihan operasi di Grasberg secara aman dan berkelanjutan, mendorong penerapan teknologi baru dan program efisiensi untuk meningkatkan profitabilitas operasi kami di Amerika, serta mengejar portofolio opsi pertumbuhan organik yang sangat menarik guna menciptakan nilai bagi para pemegang saham,” ungkap Quirk.

Sekadar informasi, PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat produksi perseroan sepanjang 2025 relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode 2024. Alasannya, terjadi kecelakaan pada tambang bawah tanah Grasberg pada sejak September 2025.

Menurut keterbukaan informasi FCX, PTFI memproduksi 1,01 miliar pon tembaga sepanjang 2025. Capaian ini turun sekitar 44% dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 1,8 miliar pon.

Dari sisi penjualan, volume tembaga pada 2025 tercatat 1,2 miliar pon, lebih rendah 26,2% dari realisasi sepanjang 2024 yang mencapai 1,63 miliar pon.

Untuk komoditas emas, produksi sepanjang 2025 tercatat sebesar 937.000 ons, merosot 49,7% dari tahun sebelumnya yang mencapai 1,86 juta ons.

Penjualan emas juga mengalami penurunan menjadi 1,05 juta ons, atau turun 42,2% dari 1,81 juta ons pada 2024.

Meski demikian, dari sisi harga terjadi tren kenaikan. Harga tembaga rata-rata pada 2025 tercatat sebesar US$4,53/pon, meningkat 8,1% dibandingkan dengan 2024 yang berada di level US$4,19/pon.

Sementara itu, harga emas melonjak signifikan menjadi US$3.418/troy ons, naik 41,4% dari US$2.418/troy ons pada tahun sebelumnya.

Manajemen FCX menjelaskan bahwa penurunan produksi dipicu oleh terhentinya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave pada September 2025 akibat insiden banjir lumpur.

Dalam kondisi normal, operasi bawah tanah PTFI mampu memproduksi sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun, sekaligus menjadi salah satu operasi tambang dengan biaya terendah di dunia.

(azr/wdh)

No more pages