Logo Bloomberg Technoz

Didukung terutama oleh minyak Iran dan Rusia yang lebih murah, operator-operator kecil tersebut telah diperintahkan oleh Beijing untuk menjaga produksi bahan bakar pada level tinggi dengan segala cara.

Cadangan Minyak Mentah China Tetap Stabil Sepanjang Perang Iran. (Bloomberg)

Langkah-langkah China untuk menangguhkan ekspor solar dan bensin pada awal perang juga memberikan bantalan terhadap dampak konflik, yang telah mengguncang pasar energi global.

Terjadi perebutan sumber minyak alternatif di seluruh Asia, dan Jepang serta Korea Selatan terpaksa menggunakan puluhan juta barel cadangan strategis mereka guna menutupi kekurangan tersebut.

“Tanpa ‘teapots’, hal ini tidak akan terjadi,” kata Erica Downs, peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia. “Karena China tidak mendapatkan seluruh volume pra-perang dari produsen Teluk, barel-barel Iran menjadi semakin penting.”

Bulan ini, pembelian minyak mentah Iran oleh China diperkirakan akan melonjak hingga mencapai rekor hampir 1,9 juta barel per hari, menurut data awal dari Kpler.

Cadangan minyak mentah secara keseluruhan di Provinsi Shandong—tempat sebagian besar ‘teapots’ beroperasi—juga mendekati level tertinggi tahun ini, menurut data Mysteel OilChem. Beijing baru-baru ini memberikan kuota impor tambahan kepada para penyuling minyak.

Perusahaan-perusahaan minyak kecil di negara ini memiliki sejarah yang penuh lika-liku. Mereka pernah menghadapi kritik karena rekam jejak lingkungan yang buruk dan menentang upaya Beijing untuk mengonsolidasikan industri ini, tetapi terbukti sangat penting bagi ketahanan pasokan bahan bakar China pada 2000-an. Kini, mereka kembali memainkan peran serupa seiring perang yang mengguncang pasar.

Perusahaan-perusahaan minyak kecil di Shandong telah meningkatkan tingkat operasional ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, menurut data dari OilChem.

Hal ini terjadi saat perusahaan penyulingan minyak milik negara—biasanya tidak mengimpor minyak Iran dan Rusia—memangkas tingkat produksi, karena penurunan pasokan dari Arab Saudi dan Irak mendorong pemain global berebut dan menaikkan tawaran sumber minyak mentah alternatif, sehingga mengikis margin keuntungan.

Kenaikan harga minyak mentah telah berdampak pada harga minyak Iran—naik ke harga premium yang jarang terjadi dibandingkan dengan patokan Brent dari sebelumnya diskon—tetapi harganya masih jauh lebih murah daripada jenis minyak dari sumber yang tidak dikenai sanksi.

Menurut perusahaan intelijen data Vortexa, sekitar 160 juta barel minyak mentah dan kondensat Iran saat ini dimuat ke kapal tanker dan sedang berlayar.

Kilang Swasta China Memanfaatkan Minyak Iran untuk Memproduksi Lebih Banyak Bahan Bakar. (Bloomberg)

Stok bensin China turun sekitar pertengahan Maret, tetapi kemudian melonjak awal bulan ini, menempatkannya di level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menurut data dari OilChem. Stok solar mengikuti tren serupa dan kini berada di level tertinggi sejak Juli 2024, menurut data tersebut.

Namun, kilang-kilang kecil hanya bisa melakukan sebatas itu. Mereka menyumbang seperlima dari kapasitas penyulingan China dan tidak akan mampu menutupi kehilangan produksi bahan bakar dari kilang-kilang negara jika terus mengurangi operasional karena gangguan berkepanjangan akibat perang.

Blokade AS yang berkepanjangan di Selat Hormuz dan upaya pasukan AS untuk menaiki kapal-kapal yang mengangkut minyak mentah Iran juga dapat mengurangi aliran pasokan dari Teheran.

Meski hal itu akan menimbulkan masalah bagi Beijing, China masih memiliki cadangan yang menguntungkan. Selama bertahun-tahun, China telah mengumpulkan cadangan minyak mentah komersial dan strategis dalam jumlah sangat besar, di mana beberapa perkiraan menyebut jumlahnya lebih dari 1 miliar barel.

(bbn)

No more pages