Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Pegadaian Sumbawa, Mustofa, menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan peningkatan literasi keuangan masyarakat. Ia menilai masyarakat kini lebih memahami cara menjaga aset sekaligus memenuhi kebutuhan.
“Pasca Lebaran, kebutuhan likuiditas masyarakat cenderung meningkat. Namun yang menarik, masyarakat kini lebih memilih menggadaikan emas dibandingkan menjualnya terutama di Pegadaian UPC Ambalawi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa emas tetap dipertahankan sebagai aset jangka panjang,” ujar Mustofa.
Ia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan transaksi di wilayah tersebut cukup signifikan. “Pegadaian UPC Ambalawi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 21,65% secara Year to Date. Sedangkan secara Area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa sendiri tumbuh sebesar 23,68%”, tambah Mustofa.
Tren Gadai Jadi Strategi Keuangan Masyarakat
Pegadaian menghadirkan berbagai produk gadai yang dirancang untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat. Proses yang cepat, aman, dan transparan menjadi keunggulan utama layanan ini.
Kemudahan pencairan dana juga menjadi faktor penting yang mendorong masyarakat memilih gadai sebagai solusi keuangan. Dalam kondisi mendesak, akses dana yang cepat menjadi kebutuhan utama.
Selain itu, Pegadaian juga menghadirkan program Gadai Bebas Bunga yang diperpanjang hingga akhir April 2026. Program ini memberikan keringanan bagi nasabah dengan biaya sewa modal nol persen.
Melalui program tersebut, masyarakat dapat memperoleh pinjaman tanpa tambahan beban bunga. Hal ini menjadi solusi yang relevan di tengah upaya pemulihan kondisi keuangan setelah Lebaran.
“Program ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kehilangan aset berharganya. Emas tetap aman, kebutuhan tetap terpenuhi,” tambah Mustofa.
Peningkatan transaksi gadai juga dikonfirmasi oleh Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar, Edy Purwanto. Ia menyebut bahwa tren ini terlihat jelas di wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya di Bima.
“Kami melihat adanya peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran, terutama di Pegadaian Cabang Bima dan unit-unit layanan seperti Pegadaian UPC Ambalawi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami fungsi gadai sebagai solusi keuangan yang bijak dan terencana,” ungkap Edy.
Menurutnya, gadai kini tidak lagi dipandang sebagai solusi darurat semata. Masyarakat mulai melihatnya sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang lebih terencana.
Dengan memanfaatkan gadai, masyarakat dapat menjaga kepemilikan aset sekaligus memenuhi kebutuhan jangka pendek. Pendekatan ini dinilai lebih bijak dibandingkan menjual aset yang memiliki nilai jangka panjang.
Pegadaian optimistis tren positif ini akan terus berkembang ke depan. Perusahaan melihat adanya potensi besar dalam peningkatan pemanfaatan layanan gadai di berbagai daerah.
Sebagai lembaga keuangan yang telah berdiri sejak 1901, Pegadaian terus bertransformasi menjadi institusi yang lebih inklusif. Berbagai produk dan layanan terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Sejak bergabung dalam Holding Ultra Mikro bersama BRI dan PNM, Pegadaian semakin memperkuat perannya dalam mendukung pelaku usaha kecil. Fokus ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain layanan gadai, Pegadaian juga menghadirkan berbagai produk investasi emas seperti Tabungan Emas dan Cicil Emas. Produk-produk ini dirancang untuk membantu masyarakat membangun aset secara bertahap.
Pegadaian juga menjadi pelopor layanan Bank Emas di Indonesia setelah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan. Layanan ini mencakup berbagai solusi berbasis emas yang inovatif.
Seluruh layanan Pegadaian kini dapat diakses melalui outlet, agen, hingga aplikasi digital. Hal ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam bertransaksi kapan saja dan di mana saja.
Dengan berbagai inovasi tersebut, Pegadaian terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan. Perusahaan juga berkomitmen untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui layanan keuangan yang berkelanjutan.
Tren peningkatan gadai pasca Lebaran di Bima menjadi indikator positif bahwa masyarakat semakin cerdas dalam mengelola keuangan. Pendekatan ini diharapkan dapat terus berkembang sebagai bagian dari budaya finansial yang sehat.
(tim)




























