Penurunan terdalam dan paling dasar dihuni oleh IHSG (Indonesia) yang melemah mencapai 1,74% pagi ini, disusul Straits Time (Singapura), Shenzhen Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), CSI 300 (China), Shanghai Comp. (China), KOSPI (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), dan KLCI (Malaysia), turut melemah mencapai 0,74%, 0,68%, 0,57%, 0,52%, 0,45%, 0,29%, 0,13%, dan 0,01%.
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Pagi hari ini, rupiah terbilang amat lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp17.290. Rupiah nyaris melemah 1% point–to–point hanya dalam tiga hari perdagangan.
Terlebih lagi pada perdagangan hari sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi amat dalam pada Kamis (23/4/2026) yang sempat menembus level genting Rp17.300/US$.
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.315/US$ yang menjadi titik terlemahnya intraday All Time Low/ATL. Rupiah melemah amat dalam di tengah tekanan sentimen pasar global yang semakin mengangkat tinggi–tinggi pamor dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS (DXY) makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 98,826 pada perdagangan Jumat pagi hari ini, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, harapan Iran kembali ke meja perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) terancam kandas.
Sebab, sejumlah pejabat yang memahami upaya diplomatik tersebut mengungkapkan ancaman dan unggahan agresif Donald Trump di media sosial menjadi faktor utama yang menghambat proses tersebut.
Menurut dua pejabat AS, rangkaian unggahan Trump di platform Truth Social, ditambah keputusannya untuk mempertahankan blokade laut di pelabuhan–pelabuhan Iran, telah berdampak buruk bagi negosiasi yang sedang dimediasi oleh pihak ketiga seperti Pakistan.
Situasi terus memanas setelah para perunding Iran menyebut narasi Trump—termasuk ancaman untuk “meledakkan seluruh negeri,” dan mengirim Iran “kembali ke Zaman Batu,”—sebagai upaya untuk mempermalukan para pemimpin Teheran. Seorang pejabat Iran dan seorang diplomat Arab menyatakan retorika tersebut membuat pihak Teheran semakin enggan untuk mencapai kesepakatan.
Efeknya, saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada nantinya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad)





























