Logo Bloomberg Technoz

Dari Jepang, bank sentral diperkirakan akan kembali menahan suku bunga, meski inflasi menunjukkan tanda-tanda penguatan. Sementara China, data PMI April menunjukkan tanda-tanda perlambatan aktivitas, meski sektor manufakturnya masih bertahan di zona ekspansi. Sebab, permintaan di pasar domestik China juga melambat meski ekspornya relatif solid. 

Sebaliknya, bagi Taiwan dan Korea Selatan, kekuatan ekonomi mereka masih ditopang oleh permintaan semikonduktor untuk mendukung industri kecerdasan buatan (AI). 

Dari Indonesia, bank sentral kembali menahan suku bunga acuan 4,75% dan membuat masa bunga tinggi bertahan lebih lama di tengah tanda-tanda kelesuan ekonomi domestik. 

Meski begitu, Bank Indonesia (BI) tetap yakin dan meramal pertumbuhan ekonomi Tanah Air di rentang 4,7% hingga 5,7% pada 2026 dengan proyeksi inflasi 1,5-3,5%. 

Di tengah badai tekanan eksternal ini, BI menyebut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. Intervensi dilakukan di pasar offshore NDF, spot dan DNDF domestik. 

Selain itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui instrumen spot dan swap dalam mata uang yuan offshore untuk mendukung rupiah serta memperluas transaksi menggunakan mata uang lokal. 

Efektivitas langkah itu, sebenarnya cenderung ditentukan bagaimana ekspektasi pasar terbentuk. Pergerakan rupiah di luar negeri yang masih bertengger di kisaran Rp17.300-an/US$, sepertinya mengirim sinyal bahwa tekanan belum sepenuhnya reda. 

Pasar offshore kerap jadi cerminan awal rupiah di pasar spot, ketika rupiah di stagnan di level tertentu seperti pagi ini, dapat mengindikasikan pelaku pasar global masih menahan posisi defensifnya. 

Bahkan, kemarin kurs rupiah spot di beberapa bank telah mencapai Rp17.400/US$. Seperti di Bank UOB Rp17.466/US$. Bahkan di CIMB Niaga mencapai Rp17.580/US$.

Sementara di bank BCA untuk transaksi online rupiah masih dibanderol Rp17.325/US$, meski untuk transaksi penukaran fisik (bank note) nilai tukarnya telah mencapai Rp17.450/US$.

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 24 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah masih ada risiko melemah. Target terdekat menuju level Rp17.300/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp17.350/US$.

Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas level terlemah sepanjang masa, masih ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp17.400-17.500/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame harian menjadi resistance psikologis potensial di Rp17.200/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah Rp17.100/US$.

(riset/aji)

No more pages