Logo Bloomberg Technoz

Bursa Saham Asia juga terbenam di zona merah. Yang jadi perhatian, Indeks Komposit jadi yang paling parah dengan melemah 2,16% pada penutupan perdagangan hari ini.

Disusul oleh SETI (Thailand), Straits Times (Singapura), SENSEX (India), Shenzhen Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), KOSDAQ (Korea), TAIEX (Taiwan), Shanghai Comp. (China), CSI 300 (China), dan PSEi (Filipina) yang amblas di zona merah masing–masing mencapai 1,24%, 1,17%, 1,1%, 1,05%, 0,95%, 0,76%, 75%, 0,58%, 0,43%, 0,32%, 0,28%, dan 0,1%.

Rupiah Buat All Time Low (ATL) Baru

Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus lesu di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan hari ini di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp17.295. Rupiah melemah 0,7%.

Rupiah All Time Low Rp17.295/US$ (Bloomberg)

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terjerumus turun hingga sempat menyentuh level terlemah di sesi intraday mencapai Rp17.315/US$ sekaligus membuat All Time Low baru terhadap dolar AS, sebelum ada di level Rp17.295/US$ tutup dagang hari ini.

Adapun rupiah melemah ditengarai terimbas sentimen ketidakpastian meredanya perang Timur Tengah yang membuat harga minyak kembali melejit. 

Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang harga tinggi US$94,84 per barel, setelah melonjak lebih dari 5,84% point–to–point seperti yang dilihat data Bloomberg siang hari ini. Sementara itu, Brent menyentuh harga US$103,85 pada perdagangan Kamis melejit 8,77% ptp.

Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan bakal menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di US$70 per barel, sementara harga saat ini kembali bertengger di atas US$100 per barel.

Sehingga setiap kenaikan minyak US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

Dinamika ini membuat investor cenderung menjual aset–aset keuangan di pasar keuangan Tanah Air. Terlebih lagi pada pasar Surat Utang Negara (SUN) pada Kamis. Imbal hasil di hampir semua tenor, baik pendek, menengah dan panjang, selaras bergerak menguat, menandakan investor banyak melepas kepemilikannya dalam aset obligasi dalam negeri.

Mengacu data realtime Bloomberg pada 17.00 WIB, kenaikan imbal hasil terlihat cukup tajam di tenor pendek. Imbal hasil tenor 1 tahun tercatat melonjak 10 bps ke 5,763%, diikuti tenor 2 tahun melejit 5,3 bps menjadi 6,035%. Begitu juga dengan tenor 5 tahun melonjak signifikan 13,9 bps menjadi 6,501% dan tenor 6 tahun melonjak 11,9 bps menjadi 6,546%. 

Tren ini juga berlanjut ke tenor 10 tahun yang menguat 8,9 bps menjadi 6,703%, disusul tenor 12 tahun melesat 4,9 bps menyentuh 6,749%.

Di sisi lain, tenor panjang juga ikut mengalami kenaikan. Imbal hasil tenor 15 tahun naik 5 bps menjadi 6,769%, tenor 20 tahun naik 3,4 bps menyentuh 6,681%. Sementara itu, tenor 40 tahun mencatatkan penguatan 0,4 bps menjadi 6,854%.

(fad)

No more pages