Selain tekanan dari sisi energi, kebijakan pemerintah yang menunjuk BUMN pangan sebagai pintu tunggal impor SBM serta potensi peningkatan ketergantungan pada pasokan dari Amerika Serikat dinilai berisiko meningkatkan biaya bahan baku secara struktural.
Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga berdampak pada kenaikan biaya feed additive dan distribusi, mengingat proses produksinya yang intensif energi.
Meski dibayangi tekanan margin, JPFA masih ditopang oleh harga ayam hidup (live bird) dan day-old chick (DOC) yang relatif tinggi. Hal ini didorong oleh kondisi pasokan domestik yang lebih ketat, setelah pemerintah sebelumnya memangkas kuota impor grand parent stock (GPS) pada 2024.
Permintaan juga diperkirakan meningkat, terutama dari implementasi program makan bergizi gratis (MBG) yang berpotensi menambah konsumsi ayam nasional secara signifikan pada 2026.
Namun demikian, Fadhlan menilai kombinasi antara harga jual yang kuat dan kenaikan biaya produksi akan menghasilkan pertumbuhan laba yang terbatas. Laba bersih JPFA diperkirakan turun tipis 0,8% secara tahunan pada 2026, dengan prospek pertumbuhan yang masih tidak menarik hingga 2027.
Dengan kondisi tersebut, Fadhlan menetapkan target harga di level Rp2.400/saham, namun menurunkan rekomendasi menjadi hold. Secara sektoral, pandangan terhadap industri unggas juga diturunkan dari overweight menjadi neutral.
Berbeda dengan pandangan tim Samuel Sekuritas, konsensus analis Bloomberg masih menunjukkan sentimen positif terhadap JPFA. Dari 28 analis, sekitar 92,9% masih merekomendasikan buy.
Adapun target harga konsensus ada di level Rp3.070/saham, mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 18% dari posisi saat ini.
(dhf)






























