Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,74% di pasar spot menyentuh Rp17.303/US$. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah dibuka melemah 0,32% di Rp17.230/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp17.400/US$ dan selanjutnya Rp17.500/US$.
Penguatan dolar AS menunjukkan investor yang sedang memasang mode bermain aman. Aset–aset berisiko pun ditinggalkan, termasuk saham.
Dari Indonesia, kegelisahan investor turut menyengat pasar surat utang, dan menyebabkan manuver jual sejak kemarin. Kenaikan imbal hasil merata terjadi di hampir semua tenor.
Dari pasar surat utang sentimen ini menggerus kepercayaan investor global. Terlihat dari adanya arus dana asing keluar di pasar saham dan obligasi.
Melansir data Bloomberg, untuk tenor pendek seperti 1 tahun imbal hasil naik 2,5 bps ke 5,71%, disusul tenor 3 tahun naik 10,6 bps ke 6,21%. Imbal hasil tenor 5 tahun dan 6 tahun juga tercatat naik masing-masing 9,8 bps ke 6,46% dan 5,1 bps ke 6,47%.
Dari dalam negeri upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter.
“Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung,” ujar Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior BI.
(fad/aji)



























