Guna menjaga mata uang Garuda, BI mengaku telah meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.
Soroti Neraca Pembayaran
Dalam paparannya, BI mengimbau pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kinerja neraca pembayaran Indonesia sehingga dapat memitigasi dampak berlanjutnya perang di Timur Tengah.
Ke depan, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran perlu terus ditingkatkan, sehingga dapat menjaga ketahanan eksternal perekonomian di tengah tingginya ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah.
Dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat net outflows sebesar US$1,7 miliar, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah.
Aliran modal kembali mencatat net inflows sebesar US$1,9 miliar pada awal triwulan II 2026 (hingga 20 April 2026), terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen.
Neraca perdagangan pada Januari-Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$2,2 miliar, terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas serta defisit neraca perdagangan migas yang menurun.
Bank Indonesia memprakirakan defisit transaksi berjalan 2026 dalam kisaran defisit 1,3% - 0,5% dari PDB.
(lav)


























