Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, pengungkapan pemilik manfaat (Beneficial Owner/BO) untuk kepemilikan besar juga tengah dan terus diperluas. Pengungkapan baru tersebut berpotensi menunjukkan free–float efektif yang dapat diinvestasikan pada sejumlah saham menjadi lebih rendah. 

Analisis Konstituen MSCI Indonesia (Bloomberg Intelligence)

Terlebih lagi, sejumlah saham lain dalam indeks MSCI Indonesia juga berpotensi mengalami penurunan bobot. Rasanya investor asing sudah melakukan ancang–ancang, aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia masih berlanjut. 

Sufianti menyebut, arus keluar dana asing pada Maret di Indonesia secara garis besar mencapai Rp23,3 triliun (US$1,4 miliar). Namun, jika mengecualikan transaksi pasar negosiasi dalam jumlah besar, nilai jual bersih lebih mendekati Rp9 triliun (US$530 juta). 

“Jika digabungkan dengan arus keluar pada Februari dengan basis yang sama, serta tambahan outflow sebesar Rp3,4 triliun secara month–to–date/mtd hingga 7 April, hal ini mengindikasikan sentimen investor asing masih lemah,” terang laporan tersebut.

Net Foreign Equity Flows, dalam Miliar Rupiah (Bloomberg)

Manuver jual tersebut intens pada saham–saham LQ45, yang menunjukkan investor asing mengurangi eksposur melalui saham–saham paling likuid di pasar. 

Hal baiknya, kondisi ini membuat valuasi menjadi lebih menarik, dengan multiple indeks IHSG dan LQ45 yang mendekati level terendah setelah mengalami penurunan dua digit.

Laporan Bloomberg Intelligence menegaskan, gejolak pasar tidak hanya perihal MSCI, namun juga meningkatnya kecemasan investor akibat perang Amerika Serikat (AS) vs. Iran. Regional Asia Tenggara mengalami tekanan, Indonesia dan Thailand mencatat arus keluar dana terbesar, sementara Vietnam juga mengalami aksi jual oleh investor asing—sejalan dengan studi sensitivitas yang menunjukkan bahwa pasar–pasar ini paling rentan terhadap guncangan sentimen.

Kegelisahan pasar sejatinya mencermati pasokan minyak yang terbatas di pasaran, yang pada gilirannya dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Dalam skenario tersebut, pasar dengan mata uang yang lebih lemah dan selisih suku bunga yang lebih negatif terhadap AS berisiko mengalami arus keluar dana yang lebih besar.

Investor asing kemungkinan tetap berhati–hati sambil menunggu kepastian yang lebih berkelanjutan baik dari pasar global maupun domestik, kemungkinan akan tetap berada di posisi wait and see.

Namun demikian, kemajuan nyata dalam reformasi pasar Indonesia berpotensi meredakan salah satu faktor penekan utama bagi pasar saham Indonesia.

(fad/aji)

No more pages