Logo Bloomberg Technoz

Perang yang kini memasuki minggu ketujuh belum mengancam momentum pertumbuhan yang telah terbangun sejak awal 2026. Hal ini berkat langkah strategis Beijing dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ketahanan energi dan mengisolasi ekonominya dari gejolak global. Selain itu, tekanan deflasi selama bertahun-tahun telah meredam potensi lonjakan harga konsumen akibat kenaikan harga minyak dunia.

Meskipun permintaan domestik belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, penilaian resmi terbaru ini kemungkinan besar akan mengurangi urgensi pemberian stimulus tambahan. Terlebih, Beijing telah mengadopsi pendekatan pertumbuhan yang lebih fleksibel dengan menetapkan target PDB di kisaran 4,5% hingga 5%—level terendah sejak 1991.

"Secara keseluruhan, indikator makro utama bangkit kembali pada kuartal pertama, dan penggerak ekonomi baru tumbuh pesat," tulis NBS dalam pernyataan resminya. "Namun, kita juga harus melihat bahwa situasi eksternal kini lebih kompleks dan fluktuatif, serta ketimpangan antara pasokan domestik yang kuat dan permintaan yang lemah masih sangat nyata."

Meski angka PDB menggembirakan, beberapa tanda ketegangan mulai muncul. Pertumbuhan ekonomi China semakin timpang karena hanya didorong oleh ekspor dan manufaktur teknologi tinggi, sementara konsumsi rumah tangga tertinggal jauh.

Tingkat pengangguran perkotaan secara tak terduga naik menjadi 5,4% pada Maret, level tertinggi dalam setahun. Investasi aset tetap juga hanya tumbuh 1,7%, sedikit melemah dari kenaikan 1,8% pada dua bulan pertama. Sektor properti bahkan kian terpuruk dengan penurunan investasi sebesar 11,2%.

Pabrik juga memiliki lebih banyak hari libur dibandingkan 2025 akibat libur Tahun Baru Imlek yang datang lebih lambat dari biasanya, sehingga memberi dampak musiman pada data.

Banyak ekonom kini memperkirakan Bank Sentral China (PBOC) tidak akan memangkas suku bunga tahun ini, mengingat guncangan harga minyak dunia telah meningkatkan ekspektasi inflasi.

Deflator PDB, indikator perubahan harga di seluruh ekonomi, turun 0,1% pada kuartal pertama, berdasarkan perhitungan Bloomberg dari data pertumbuhan nominal dan riil resmi. Ini merupakan penurunan selama 12 kuartal berturut-turut.

"Permintaan tenaga kerja yang lemah sangat membebani konsumsi," kata Raymond Yeung, kepala ekonom untuk China Raya di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. "Momentum saat ini masih didorong oleh manufaktur. Mengingat konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi, kami melihat adanya risiko penurunan bagi pertumbuhan ke depan."

(bbn)

No more pages