Logo Bloomberg Technoz

Prof Budi juga mengatakan ada beberapa faktor yang membuat kasus pelecehan sering terjadi. Salah satunya menormalisasi budaya candaan seksual dan minimnya pemahaman etika.

“Adanya normalisasi budaya candaan seksual sering dianggap wajar. Padahal seharusnya tidak boleh dilakukan. Individu juga cenderung mengikuti perilaku grup demi diterima teman/peer group-nya, lalu minimnya pemahaman tentang etika, batasan, dan persetujuan dalam pergaulan sosial dan anonimitas dan jarak interaksi dapat menurunkan empati dan simpati sosial dari pelaku,” kata Prof. Budi.

“Setiap individu dan keluarga memiliki tanggung jawab untuk membangun dan menciptakan ruang yang aman dan saling menghormati. Diam atau membiarkan hanya akan memperkuat budaya dan perilaku yang menyimpang untuk terus terjadi,” tambahnya.

Prof Budi juga menuturkan beberapa langkah perlu diperlukan untuk mengantisipasi kejadian tersebut terjadi lagi, terutama di dunia pendidikan.

Pertama, menegakkan kebijakan nol toleransi (zero tolerance) terhadap kekerasan seksual. Kedua, mengaktifkan unit penanganan kasus anti pelecehan dan kekerasan secara transparan dan akuntabel. Ketiga, memberikan literasi / edukasi wajib pada peserta didik tentang consent dan etika digital.

“Kasus ini adalah cerminan tantangan yang lebih luas dalam masyarakat kita. Khususnya dalam pembangunan keluarga. Penanganannya tidak cukup hanya dengan sanksi, tetapi membutuhkan perubahan budaya, sosialisasi nilai dan pengasuhan anak sejak dini, pendidikan, dan sistem nilai dan etika yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, keluarga dan lembaga pendidikan memegang peran yang menentukan,” tutupnya.

(spt)

No more pages