Meski begitu, Agus tetap mengingatkan kelangkaan bahan baku tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi fenomena global akibat ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini mendorong persaingan antarnegara dalam mengamankan pasokan bahan baku strategis, termasuk plastik dan turunannya.
Sembari mengungkapkan rasa optimistisnya bahwa industri nasional mampu bertahan menghadapi tekanan tersebut, berkaca dari pengalaman pandemi Covid-19, di mana sektor industri dalam negeri dinilai memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dan mampu pulih lebih cepat dibandingkan negara lain.
"Dan sekali lagi, yang menghadapi masalah supply, market, itu bukan hanya di Indonesia," tegasnya.
Sebelumnya, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan mulai memberlakukan diversifikasi sumber bahan baku menyusul meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengungkapkan imbas dari hal tersebut pihaknya kini mulai mencari sumber alternatif nafta dari luar kawasan Timur Tengah, termasuk dari AS. Nafta sendiri merupakan bahan baku utama dalam industri petrokimia untuk memproduksi plastik (olefin).
"Jadi memang itu adalah sesuatu yang kita khawatirkan paling seram ya. Dengan penutupan itu, artinya ini akan berlangsung lebih lama dari apa yang kita perkirakan," kata Fajar kepada Bloomberg Technoz, Selasa (14/4/2026).
"Artinya, mau tidak mau kita sekarang fokus ke alternatif skenario yang lain, yaitu harus mendapatkan sumber bahan baku Nafta dari tempat lain. Kebetulan kita sudah dapat juga dari Amerika, tapi tantangannya adalah masalah waktu pengiriman," tegasnya.
Di sisi lain, potensi blokade selat Hormuz dikhawatirkan membuat pasokan nafta semakin terbatas dan kian kompetitif di pasar global. Di tambah adanya keterbatasan armada kapal sebab masih banyak yang tertahan di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, Fajar menyebut sebagai langkah mitigasi, asosiasi-nya mulai mengembangkan substitusi bahan baku selain nafta, yakni kondensat dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Fajar bilang kondensat dalam negeri bisa dimanfaatkan, walau perlu pemetaan lebih lanjut utamanya terkait ketersediaan dan kesesuaiannya sebagai bahan baku industri.
"Kondensat itu sendiri sebenarnya di dalam negeri ada, cuma kita harus hitung-hitung dan harus minta kepada pemerintah untuk diskusi lagi kira-kira Kondensat yang tipenya Light Condensate [atau] yang setipe dengan miliknya Donggi Senoro itu ada di mana, berapa jumlahnya, dan kapan kita bisa gunakan sebagai substitusi nafta untuk bahan baku biji plastik," jelasnya.
(ain)






























