Qassem menilai perundingan itu hanyalah taktik untuk menekan Hizbullah agar meletakkan senjata.
"Israel secara jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, sebagaimana yang berulang kali ditegaskan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu. Jadi, bagaimana mungkin Anda datang ke negosiasi yang tujuannya sudah jelas (merugikan)?" ujar Qassem.
"Kami tidak akan beristirahat, berhenti, apalagi menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang yang berbicara sendiri," tambahnya.
Israel mulai meningkatkan intensitas perangnya di Lebanon pada awal Maret lalu, menyusul serangan roket dari Hizbullah. Padahal, gencatan senjata antara Israel dan kelompok yang didukung Iran tersebut secara formal telah berlaku sejak November 2024, meski Israel tetap melakukan serangan mematikan hampir setiap hari.
Hizbullah mengeklaim bahwa serangan mereka pada 2 Maret merupakan aksi balas dendam atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, oleh AS dan Israel dua hari sebelumnya—yang bertepatan dengan hari pertama pecahnya perang AS-Israel melawan Iran.
Sejak eskalasi tersebut, pemboman Israel di Lebanon serta invasi darat di wilayah selatan telah menelan korban jiwa setidaknya 2.055 orang, termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis. Lebih dari 6.500 orang lainnya luka-luka, sementara sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
(del)




























