"Pasar benar-benar ingin memberikan kesempatan bagi perdamaian, dengan menonjolkan sisi positif dan mengesampingkan sisi negatif di tengah ketegangan AS-Iran," ujar Kyle Rodda, analis di Capital.com Inc. "Meski begitu, risiko volatilitas tetap tinggi karena setiap berita utama terkait konflik masih menjadi penggerak utama pasar."
Sementara itu, blokade AS di Selat Hormuz mulai berlaku, menandai upaya terbaru Trump untuk menekan Iran agar melonggarkan kontrolnya atas jalur strategis tersebut, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sejak langkah tersebut diberlakukan, setidaknya dua kapal tanker dilaporkan membatalkan rencana pelayaran setelah tenggat militer untuk keluar dari perairan Iran berakhir, menandakan meningkatnya gangguan terhadap pengiriman global.
Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada akhir Februari, pemerintahan Trump telah berulang kali mengambil langkah untuk menahan kenaikan harga, termasuk mengoordinasikan pelepasan cadangan darurat global terbesar yang pernah dilakukan. Pemerintah AS juga melonggarkan sebagian sanksi terhadap pengiriman minyak Iran di laut guna menekan lonjakan harga. Meski demikian, harga minyak masih bertahan di kisaran US$100 per barel pada kedua acuan utama.
“Saya pikir kita berada pada posisi di mana tujuan kita telah tercapai. Kita bisa mulai mengakhiri situasi ini secara bertahap,” kata Wakil Presiden AS JD Vance menanggapi pertanyaan mengenai kenaikan harga energi yang dirasakan warga Amerika akibat konflik Iran.
Di tempat lain, dolar Singapura menghapus penguatannya setelah bank sentral negara tersebut memperketat kebijakan moneternya.
Dari sektor korporasi, musim laporan kinerja kuartal pertama dimulai dengan hasil beragam. Saham Goldman Sachs Group Inc turun 1,9% setelah pendapatan perdagangan saham yang lebih baik dari perkiraan gagal menutupi penurunan di perdagangan obligasi, mata uang, dan komoditas, menandai awal yang kurang menggembirakan bagi musim laporan keuangan.
Kinerja Goldman memberikan gambaran awal kondisi kesehatan keuangan korporasi Amerika. Bank-bank terbesar di Wall Street diperkirakan mencatat pendapatan perdagangan saham rekor sebesar US$18 miliar pada kuartal pertama, didorong aktivitas investor selama perang dan kekhawatiran sektor teknologi. JPMorgan Chase & Co, Wells Fargo & Co, dan Citigroup Inc dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Selasa pagi waktu New York.
Sementara itu, pasar obligasi kembali menyoroti inflasi akibat kenaikan harga minyak dan lonjakan harga konsumen Amerika Serikat pada Maret. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang sempat naik ke level tertinggi sejak 1997 pada Senin sebelum kembali turun. Di Amerika Serikat, pasar uang menunjukkan peluang kurang dari 20% untuk pemangkasan suku bunga hingga Desember.
“Mengingat biaya ekonomi dari harga minyak yang lebih tinggi dan ketidakpastian perkembangan situasi yang sangat besar, kami menilai investor sebaiknya menghindari upaya ‘berdagang’ berdasarkan geopolitik,” tulis Ulrike Hoffmann‑Burchardi dari UBS Global Wealth Management.
Beberapa pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 relatif stabil pada pukul 09.07 waktu Tokyo
- Kontrak berjangka Hang Seng Index naik 1%
- Topix Index naik 0,7%
- S&P/ASX 200 naik 0,6%
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,5%
Mata uang
- Indeks dolar Bloomberg relatif tidak berubah
- Euro stabil di US$1,1762
- Yen Jepang stabil di 159,32 per dolar
- Yuan offshore stabil di 6,8168 per dolar
- Dolar Australia stabil di US$0,7093
Kripto
- Bitcoin naik 1,6% ke US$74.402,23
- Ethereum naik 5,1% ke US$2.368,39
Obligasi
- Imbal hasil obligasi AS 10 tahun stabil di 4,29%
- Imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,465%
- Imbal hasil obligasi Australia 10 tahun turun enam basis poin menjadi 4,95%
Komoditas
- West Texas Intermediate turun 2,4% menjadi US$96,72 per barel
- Emas spot naik 0,3% menjadi US$4.755,12 per ons
Artikel ini dibuat dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)





























