Peso Filipina menjadi mata uang paling tertekan, disusul won Korea Selatan, lalu baht Thailand, rupee India, rupiah, yen Jepang, dolar Taiwan, dan ringgit Malaysia. Sementara, dolar Hong Kong dan Singapura cenderung terbatas pelemahannya dibanding mata uang lainnya.
Sebaliknya yuan China justru menunjukkan resiliensinya di tengah badai perang Timur Tengah ini.
Blokade Selat Hormuz
Sentimen risk-off kembali melanda aset di pasar emerging markets setelah Presiden AS mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Tekanan di Selat Hormuz artinya membuat arus distribusi minyak kembali tersendat, setelah beberapa tanker diizinkan melintas pada masa gencatan senjata pekan lalu.
Setelah pembicaran dengan Iran gagal mencapai kata sepakat, Presiden AS mengancam akan memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi waktu New York, seperti dikutip Bloomberg News.
"Bisa jadi sulit bagi Iran untuk kembali mempercayai pemerintahan Trump secara berkelanjutan setelah blokade ini, sehingga konflik yang lebih panjang tampaknya lebih mungkin terjadi," kata Michael Wan, analis valas MUFG dalam catatannya.
Akibat ancaman ini, harga minyak mentah jenis Brent terpantau kembali naik 6,42% ke US$101,3 per barel pada sesi perdagangan hari ini, sementara WTI naik 6,83% ke level US$103,17 per barel. Kenaikan harga minyak mentah ikut mengerek indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sebesar 0,28% ke level 98,92.
Kenaikan harga minyak mentah juga memicu pelemahan saham Asia sebagian bergerak melemah. Melansir data realtime Bloomberg pada 14:20 WIB, Indeks Hang Seng tercatat tergerus 1,06%, indeks Topix melemah 0,45%, indeks KOSPI melemah 0,86%, NIKKEI 225 melemah 0,74%, sementara KOSDAQ dan IHSG justru menguat masing-masing 0,57% dan 0,79%.
(dsp/aji)


























