Lebih lanjut, sepanjang pekan ini rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang melemah kala mata uang Asia berpesta dan menyambut jeda perang sebagai sentimen positif. Berbeda dengan mata uang kawasan, rupiah sepekan melemah 0,58% kala semua mata uang Asia berbalik arah dan menguat.
Sentimen Domestik
Di tengah jeda perang dan saat sentimen eksternal mereda bagi negara-negara di Asia, rupiah belum bisa ikut euforia yang terjadi pada mata uang kawasan. Rupiah sedang terbebani sentimen risiko fiskal di tengah belanja APBN yang masih dianggap ekspansif oleh pelaku pasar.
Kenaikan harga minyak mentah bertahan di US$90-an per barel dan masih berada di atas asumsi APBN 2026 diproyeksikan dapat membuat defisit fiskal makin melebar. Apalagi, pemerintah memutuskan untuk menahan gejolak harga sebagai upaya menjaga daya beli.
Hal ini malahan dibaca pasar sebagai kebijakan populis yang justru mencerminkan pudarnya disiplin fiskal. Menahan harga bahan bakar demi stabilitas sosial artinya memperbesar beban subsidi, sementara menaikkan harga memang berisiko menekan daya beli masyarakat yang saat ini memang sedang lesu.
Sebagai catatan, pelebaran defisit APBN telah mencapai rekor tertinggi pada kuartal I-2026 dibandingkan periode sama dua tahun sebelumnya. Hal ini terjadi lantaran aksi belanja pemerintah masih ekspansif.
Program Prioritas Presiden Prabowo Subianto yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu pendorong utama kenaikan belanja pemerintah di awal tahun hingga menorehkan defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun pada kuartal I-2026. Defisit itu setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Cadangan Devisa Turun
Pelemahan rupiah sejak awal tahun telah menyebabkan cadangan devisa turun. Cadangan devisa tercatat menurun selama tiga bulan beruntun. Sebagai catatan, pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar.
Kemudian pada Februari cadangan devisa juga tergerus US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.
Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Pada Maret, setelah perang pecah di Timur Tengah rupiah terus bergejolak hingga Rp16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$.
Di tengah tekanan ini, pelemahan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Helmi Arman, Ekonomi Citi mengatakan dalam catatannya, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh penurunan kepemilikan asing di pasar saham dan obligasi jangka panjang, adanya peningkatan permintaan valas korporasi untuk pembayaran dividen hingga Juni, serta pelemahan perdagangan akibat konflik Timur Tengah.
Dia memproyeksikan otoritas moneter akan mengambil langkah hawkish mengingat cadangan devisa bulan Maret sudah banyak tergerus. Citi memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin jika tekanan di pasar valas masih berlanjut.
(dsp/aji)



























