Logo Bloomberg Technoz

“Namun demikian, mengingat ketidakpastian dari kondisi geopolitik global, dampak lebih lanjut terhadap harga bahan baku, biaya energi dan kondisi pasar tidak dapat diprediksi secara pasti,” tulis manajemen.

Di sisi lain, manajemen FPNI menilai grup memiliki sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya dan menyelesaikan kewajiban yang jatuh tempo untuk periode minimal 12 bulan sejak tanggal penyelesaian laporan keuangan konsolidasian.

Kepastian keuangan itu tetap mempertimbangkan kemungkinan terjadi gangguan operasional yang diakibatkan oleh keterbatasan pasokan bahan baku.

Sebelumnya, FPNI berhasil mencetak untung US$4,25 juta sepanjang 2025, membalik posisi rugi pada tahun sebelumnya minus US$8,28 juta.

FPNI mencetak pendapatan dari kontrak dengan pelanggan mencapai US$320,67 juta, susut 12,86% dari penjualan tahun sebelumnya.

Kendati demikian, beban pokok penjualan membaik menjadi US$319,3 juta pada 2025, turun 14,17% dibanding tahun sebelumnya sebesar US$372,02 juta.

Sebagian besar penjualan polyethylene dilakukan ke PT Bukitmega Masabadi, dengan porsi US$125,45 juta setara 39,12% penjualan sepanjang tahun lalu.

Sementara itu, pembelian bahan baku mendominasi beban pokok penjualan dengan nilai mencapai US$262,9 juta.

FPNI belakangan telah membeli bahan baku dari afiliasi atau sister company PT Lotte Chemical Indonesia yang baru beroperasi akhir tahun lalu.

Pembelian bahan baku dari PT Lotte Chemical Indonesia mencapai US$141,47 juta dan pengadaaan dari induk usaha Lotte Chemical Titan Corporation Sdn. Bhd mencapai US$110,87 juta.

Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Lotte Chemical Indonesia, Cilegon, (6/11/2025). (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Hanya saja, risiko bahan baku yakni eyhylene dan butene makin menekan kinerja FPNI tahun ini di tengah konflik berkelanjutan di Timur Tengah.

Afiliasi FPNI yang memasok eyhylene dan butene itu, PT Lotte Chemical Indonesia belakangan mengumumkan gangguan pasokan nafta dan liquified petroleum gas (LPG).

Gangguan di Afiliasi Usaha

Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia Cho Jin-Woo mengatakan, perusahaan saat ini juga tengah melakukan penyesuaian operasional untuk menjaga keberlanjutan produksi. 

“LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada," ujarnya dalam siaran resmi, dikutip Kamis (9/4/2026).

Cho menyoroti dan meminta sejumlah dukungan strategis dari pemerintah guna menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku.

Dukungan tersebut meliputi penyederhanaan regulasi untuk mempercepat proses impor bahan baku dan penerapan bea masuk 0% untuk LPG sebagai bahan baku.

Kemudian, lanjut dia, perusahaan juga turut meminta bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan eksponensial dalam krisis rantai pasokan global.

"Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi," kata dia.

Adapun, pabrik Lotte berlokasi di Cilegon, Banten. Pabrik petrokimia tersebut baru diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada November 2025 lalu.

Pabrik tersebut diklaim dapat menekan impor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun, yang diklaim dapat menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun.

Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun.

Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), disertai tambahan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 0%—50% sebagai bahan pendukung.

Dari bahan baku tersebut, naphta diolah menjadi produk hulu antara lain; ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene sebesar 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline sebesar 675 kTA, pyrolysis fuel oil sebesar 26 kTA, dan hidrogen sebesar 45 kTA.

Sementara itu, produk hilirnya terdiri atas; high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzenetoluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.

Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat.

(naw)

No more pages