Logo Bloomberg Technoz

Popularitas boneka Labubu melonjak secara global tahun lalu — contoh langka soft power China yang mendapat sambutan di pasar Barat — sehingga mendorong saham Pop Mart International Group Ltd. melonjak sekitar 300% sejak awal 2025 hingga mencapai rekor tertinggi pada Agustus. Namun, kekhawatiran yang terus berlanjut bahwa tren Labubu bisa meredup telah membebani saham sejak saat itu.

Upaya perusahaan untuk mendiversifikasi kekayaan intelektualnya belum menunjukkan hasil sebagai pendorong pertumbuhan yang signifikan. Seri Monsters yang dipimpin oleh Labubu menyumbang sekitar 40% dari total pendapatan tahun lalu, naik dari 23% pada 2024. Sementara itu, karakter populer lainnya seperti Crybaby dan Molly mencatat penjualan di bawah ekspektasi.

Perputaran persediaan Pop Mart juga meningkat 21% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 123 hari hingga akhir 2025. Perusahaan menyebut kenaikan tersebut disebabkan oleh waktu pengiriman yang lebih lama, peningkatan penjualan ke pasar luar negeri, serta jaringan toko yang semakin luas.

Bahkan valuasi yang lebih murah dan aksi pembelian kembali saham belum cukup untuk menarik minat investor. Pop Mart International Group Ltd. telah membeli kembali saham senilai sekitar HK$1,3 miliar ($166 juta) sejak penurunan harian rekor sebesar 23% pada 25 Maret. Saat ini, saham tersebut diperdagangkan pada level terendah sepanjang masa, yakni 10,3 kali proyeksi laba (forward earnings), dibandingkan rata-rata tiga tahun sebesar 24 kali.

“Harga saham saat ini memang tidak mahal, tetapi hal yang sama juga bisa dikatakan untuk banyak saham konsumen China yang diperdagangkan pada valuasi serupa,” ujar Angus Lee, manajer dana di Sparx Group Co.. “Yang membedakan Pop Mart adalah narasinya, baik itu Labubu atau potensi IP hit berikutnya serta kemampuan mereka untuk sukses secara global, namun saat ini cerita tersebut terasa tidak pasti.”

Untuk menarik kembali minat investor, Pop Mart perlu menunjukkan bahwa mereka mampu mempertahankan popularitas IP andalannya, mulai dari Labubu hingga Molly, sekaligus membuktikan kemampuan menghadirkan karakter blockbuster berikutnya, katanya. Lee, yang mulai mengakumulasi saham Pop Mart sejak awal tahun lalu, telah melepas seluruh posisinya setelah perusahaan mengumumkan hasil kinerjanya.

Seorang juru bicara Pop Mart menolak memberikan komentar.

Perusahaan mempercepat peluncuran karakter baru seperti Skullpanda dan Twinkle Twinkle, dengan merilis koleksi baru serta seri kolaborasi yang menggabungkan berbagai IP. Pada saat yang sama, perusahaan juga mendorong ekspansi daya tarik global Labubu melalui kolaborasi dengan Sanrio Co. dan FIFA World Cup, serta rencana film animasi bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment Inc..

Saham Pop Mart International Group Ltd. turun hingga 2,3% pada awal perdagangan Kamis setelah sebelumnya ditutup naik 1,2% pada Rabu.

Untuk saat ini, para short seller meningkatkan posisi mereka pada saham tersebut dengan 123 juta saham dipinjam dan dijual secara short, naik 16% dibandingkan sebelum laporan kinerja dirilis, menurut data S3 Partners. Trader opsi juga meningkatkan kontrak bearish, mendorong volume opsi jual (put) Pop Mart ke rekor tertinggi pada Rabu.

“Pasar meremehkan tantangan yang akan datang,” ujar Melinda Hu, analis konsumen di Bernstein, yang selama berbulan-bulan menjadi satu-satunya analis sisi jual yang bearish terhadap saham ini. “Tanda-tanda perlambatan pertumbuhan, normalisasi margin, atau kejenuhan IP dapat mendorong penurunan valuasi yang signifikan dan proyeksi konsensus kemungkinan akan direvisi turun.”

(bbn)

No more pages