Alasannya harga minyak mentah bakal terus melonjak dan biaya pengadaan BBM ikut meningkat, sehingga selisih antara harga keekonomian dan harga jual makin melebar.
“Dalam jangka menengah, ini justru berisiko lebih besar bukan hanya pada kesehatan keuangan Pertamina, tetapi juga pada ketahanan energi nasional yang sangat bergantung pada kapasitas investasi dan operasional perusahaan tersebut,” tegas dia.
Kenaikan Signifikan
Dihubungi secara terpisah, praktisi senior industri migas Hadi Ismoyo mengkalkulasi kenaikan harga minyak mentah dari US$70/barel menjadi sekitar US$90/barel bakal meningkatkan harga BBM cukup signifikan.
Dengan asumsi yield sebesar 0,7, yang mencerminkan dari setiap 1 barel minyak mentah hanya sekitar 70% yang dapat diolah menjadi BBM, serta kurs Rp17.000/US$, kenaikan harga BBM dapat terjadi mencapai 28%.
Dengan begitu, harga Pertamax yang sebelumnya berada di level Rp12.300/liter semestinya terkerek menjadi sekitar Rp15.744/liter atau naik Rp3.444/liter.
“Jika 40% dari total kebutuhan BBM adalah nonsubsidi, spread harga yang ditanggung adalah Rp340 miliar/hari,” kata Hadi ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Adapun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan PT Pertamina (Persero) sementara waktu bakal menanggung selisih harga jual dan harga keekonomian BBM nonsubsidi seperti Pertamax series dan Dex series, ketika memutuskan menahan harga jual per 1 April 2026.
Purbaya mengklaim Pertamina memiliki keuangan yang sehat dan cukup mampu untuk menanggung selisih harga jual BBM nonsubsidi dengan harga keekonomiannya.
“Sementara sepertinya [ditanggung] Pertamina, sementara ya. Dia mampu karena sekarang dari pemerintah kan lancar [pembayaran kompensasinya]. Kompensasi kan sekarang kita bayar setiap bulan 70% terus-terusan,” kata Purbaya ditemui di kantor Danantara, Rabu (1/4/2026).
Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan bakal melakukan pembahasan dengan pemerintah ihwal keputusan menahan harga jual BBM nonsubsidi per 1 April 2026.
Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menjelaskan Pertamina bakal mengikuti arahan pemerintah, apabila selisih harga jual tersebut bakal dikompensasi negara maupun oleh perseroan.
“Ini ke depannya pastinya akan dibahas dan dibicarakan dengan pemerintah dan regulator, di mana Pertamina tentunya akan mengikuti arahan yang diberikan,” kata Roberth ketika dihubungi, Rabu (1/4/2026).
Sekadar informasi, Pertamina resmi tidak menyesuaikan seluruh harga BBM, baik jenis subsidi dan nonsubsidi per 1 April 2026.
Harga BBM Pertamax (RON 92) di Jabodetabek bulan sebelumnya Rp12.300/liter kini tetap Rp12.300/liter. Harga Pertamax Turbo (RON 98) saat ini tetap dipatok sebesar Rp13.100/liter atau tidak mengalami kenaikan atau penurunan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Begitu juga dengan Pertamax Green, tetap dihargai Rp12.000/liter atau tidak mengalami penyesuaian harga.
Tidak hanya itu, harga bensin bersubsidi yakni Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite—yang menggunakan skema kompensasi — masih ditahan pemerintah di level Rp10.000/liter.
Untuk harga BBM jenis solar, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama tidak mengalami penyesuaian harga sehingga masing-masing dibanderol Rp14.200/liter dan Rp14.500/liter.
Harga BBM jenis solar bersubsidi yakni Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar juga tetap ditahan pemerintah di harga Rp6.800/liter.
(azr/wdh)
































