Logo Bloomberg Technoz

Tahan Harga Pertamax, Beban Pertamina Ditaksir Rp12 T per Bulan

Azura Yumna Ramadani Purnama
01 April 2026 15:00

Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta – PT Pertamina (Persero) diprediksi harus menanggung selisih harga keekonomian dan harga jual Pertamax sebesar Rp5.500/liter, sebab saat ini harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi RON 92 itu ditahan di level Rp12.300/liter untuk zona Jawa.

Harga asli atau keekonomian Pertamax, padahal, dilaporkan telah melonjak hingga Rp17.850/liter untuk periode April 2026.

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi berpendapat, dengan asumsi konsumsi BBM jenis bensin nonsubsidi sekitar 25 juta kiloliter (kl) per tahun, maka potensi selisih harga jual yang harus ditanggung Pertamina bisa mencapai Rp138—Rp140 triliun per tahun.


Sementara itu, jika dihitung dalam satu bulan, beban tersebut berada di kisaran Rp11—12 triliun per bulan.

“Jika dihitung bulanan, beban ini berada di kisaran Rp11—12 triliun per bulan, angka yang sangat signifikan bahkan untuk korporasi sebesar Pertamina,” kata Badiul ketika dihubungi, Rabu (1/4/2026).

Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU Pertamina Rest Area Tol Tangerang-Jakarta KM 14, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)