Sementara itu, posisi defisit Indonesia dengan Singapura mencapai US$0,80 miliar akibat impor mesin dan peralatan mekanis, logam mulia dan perhiasan dan plastik dan barang dari plastik.
Di sisi lain, neraca nonmigas Indonesia masih superior atau surplus terhadap Amerika Serikat, India dan Filipina.
Indonesia mencatat surplus neraca nonmigas dengan Amerika Serikat sebesar US$3,53 miliar, berasal dari ekspor mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorinya dan lemak dan minyak hewani atau nabati.
Sementara itu, surplus Indonesia dengan India mencapai US$2,33 miliar disumbang dari ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati dan mesin dan perlengkapan elektrik.
Di sisi lain, surplus dagang dengan Filipina mencapai US$1,5 miliar disumbang dari ekspor kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral dan barang dari besi dan baja.
Neraca Dagang Surplus
BPS melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia tercatat mengalami surplus US$1,27 miliar pada Februari 2026. Artinya, ini merupakan surplus 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Nilai surplus lebih tinggi dibanding posisi surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 yang sebesar US$950 juta.
Kendati demikian, nilai surplus itu lebih rendah dibanding konsesus Bloomberg yang memproyeksi neraca perdagangan Februari mencatat surplus dengan median sekitar US$1,5 miliar.
Ateng menerangkan pada Januari 2026, neraca perdagangan terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yakni dengan surplus sebesar US$2,19 miliar.
"Beberapa komoditas penyumbang surplus yakni, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Ateng.
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$920 juta, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak, serta gas.
(naw)



























