Logo Bloomberg Technoz

David menambahkan, tekanan inflasi bulanan terutama bersumber dari kenaikan harga bahan pokok. Fenomena ini merupakan pola berulang setiap tahun karena harga pangan cenderung naik saat memasuki periode Ramadan.

Lebih lanjut, untuk inflasi inti dia memperkirakan komponen inti melemah menjadi 0,04% mtm, dibandingkan 0,42% mtm pada Februari 2026.

“Inflasi inti tumbuh lemah karena rata-rata harga emas di Maret turun dibandingkan Februari,” ujarnya. 

Penurunan Semu

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul menjelaskan usai Lebaran, inflasi biasanya turun karena permintaan melemah. Namun penurunan ini bersifat semu, karena tekanan dari sisi biaya belum hilang. Artinya, inflasi bisa melandai sesaat tapi tetap rentan naik kembali.

Dia menjelaskan, pada saat sebelum Lebaran, inflasi sudah berada di level ±4,7% yoy, menunjukkan tekanan harga sudah terbentuk. Kondisi ini menandakan inflasi bukan semata musiman, tetapi sudah dipicu oleh kombinasi kenaikan biaya produksi dan distribusi sejak awal.

Dia menuturkan dengan perputaran uang sekitar Rp400 triliun berdampak pada harga pangan seperti cabai, ayam, dan telur naik 10%–40%. Dengan bobot pangan yang besar turut menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,5%–1%.

Dalam kaitan itu, dia memproyeksikan inflasi Maret 2026 berada di kisaran 4,6% – 5,6%. Menurutnya angka ini relatif tinggi dan akan bertahan.

“Inflasi Maret berpotensi sedikit melandai pasca puncak Lebaran, namun tetap tinggi karena tekanan pangan dan energi global, sehingga penurunannya bersifat terbatas dan belum sepenuhnya stabil,” jelas dia. 

Ada Tekanan Lain

Tak hanya itu, dia menambahkan kenaikan harga minyak dunia dari asumsi US$70/barel bahkan mencapai diatas US$100/barel memberi tekanan yang besar. Dengan efek rambatan ke bahan bakar minyak (BBM) dan transportasi, inflasi berpotensi bertambah sekitar 0,8%. 

“Ini bersifat lebih permanen dibanding efek Lebaran,” ujarnya. 

Menurutnya,  juga terdapat pelemahan rupiah sekitar 5% yang ikut mendorong harga barang impor. Dengan efek rambatan ke harga domestik, inflasi bertambah sekitar 0,3%, terutama dari sektor pangan impor dan energi.

“Saya melihat, masalah utama adalah kombinasi dua tekanan Lebaran dengan adanya dorongan konsumsi sifatnya sementara. Dan konflik Timteng yang memicu kenaikan BBM berdampak pada kenaikan biaya ini bersifat jangka panjang,” ungkap dia.

“Akibatnya, inflasi tidak cepat turun dan berisiko menekan daya beli masyarakat lebih lama.”

Bagaimanapun, Badiul menyebut inflasi pasca Lebaran bukan sekadar fenomena musiman, tetapi mulai bergeser menjadi tekanan struktural. Artinya, tanpa pengendalian harga energi dan pangan, daya beli masyarakat berpotensi makin tergerus di tengah pertumbuhan ekonomi yang juga melambat.

(lav)

No more pages