Logo Bloomberg Technoz

"Dan yang lebih berat lagi sebenarnya ketersediaannya. Ada beberapa produsen yang sudah menyatakan tidak bisa, tidak sanggup memasok karena tidak ada bahan baku plastiknya," tutur Adhi.

Minta Pemerintah Cari Solusi

Adhi pun meminta pemerintah untuk segera mencari solusi yang terbaik untuk mencegah keberlangsungan industri plastik, yang sangat berkaitan erat dengan industri mamin dalam negeri.

Salah satu caranya adala melakukan negosiasi kepada seluruh entitas industri mamin, termasuk kemasan plastik untuk bersama mencari cara keluar dari tekanan yang saat ini semakin besar.

"Saya berharap pemerintah bisa segera cari solusi yang terbaik," kata dia. "Salah satu yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana kita negosiasI, mengatur industri hulu dan hilir harus kompak, tidak perlu berjalan sendiri-sendiri yang akan mempersulit situasi."

Sebelumnya, - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti potensi dampak perang AS-Iran, terutama dari sisi bahan baku kemasan plastik yang berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi dan harga.

Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardhika mengatakan hal itu disebabkan oleh kenaikan biaya logistik akibat gejolak harga minyak dunia yang sempat menyentuh rekor tertinggi.

Apalagi, industri mamin sangat berkaitan dengan subsektor kemasan yang sebagian besar berbahan plastik berbasis petroleum, sebagai industri padat energi yang bahan bakunya juga berasal dari minyak bumi dan gas alam.

"Sebenarnya, yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Jadi kemasannya itu biasanya dari plastik. Nah plastik ini adalah plastik petroleum based plastik,” kata Putu kepada wartawan di Jakarta, dikutip Jumat (13/3/2026).

Putu mengatakan hal tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap bahan baku kemasan dan membuat biaya produksi lebih besar karena sebagian besar produk mamin menggunakan plastik sebagai komponen utama.

Salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan biaya kemasan adalah minuman dalam kemasan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK).

Putu menjelaskan kenaikan harga minyak tersebut berpotensi menambah biaya logistik. Itu juga dpat membuat harga kemasan bisa jauh lebih mahal dibandingkan isi produknya akibat potensi tekanan biaya produksi kemasannya.

“Salah satu adalah di air dalam kemasan. Itu yang mahal itu adalah bukan airnya, itu kemasannya,” kata dia.

Meski demikian, pemerintah masih menghitung secara detail potensi kenaikan harga di tingkat konsumen. Saat ini, kata dia, otoritas perindustrian negara masih berkoordinasi dengan asosiasi industri terkait.

(ain)

No more pages