Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.513,3/troy ons. Menguat 0,41% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Penguatan tersebut membuat harga emas genap naik dua hari beruntun. Selama dua hari itu, harga terangkat 3,04%.
Sentimen positif bagi harga emas datang dari pernyataan Jerome ‘Jay’ Powell, Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. Dalam sebuah acara di Universitas Harvard, Powell menyatakan bahwa ekspektasi inflasi di Negeri Paman Sam masih terjaga, meski saat ini ada risiko kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah.
“Ekspektasi inflasi sepertinya masih terjangkar dengan baik dalam jangka pendek. Pengambil kebijakan mungkin perlu mengambil langkah sebagai dampak dari konflik, tetapi belum sekarang,” kata Powell, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Powell menilai dampak ekonomi dari perang belum bisa dipastikan. Namun kebijakan yang ada sudah cukup memadai, dan tinggal menunggu perkembangan yang ada.
“Kami memantau segala dinamika dengan sangat saksama. Kami memonitor hubungannya ke sistem perbankan, dan kami belum melihat itu,” tambah Powell.
Pernyataan tersebut sedikit banyak menghidupkan asa bahwa suku bunga acuan di Negeri Adidaya bisa turun. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
Selain itu, sepertinya kenaikan harga emas juga ditopang oleh koreksi yang sudah cukup dalam. Dalam sebulan terakhir, harga emas sudah ambruk hampir 15%.
Jadi, sekarang harga emas memang sudah ‘murah’. Ini membuat emas kembali dilirik, permintaan naik, dan harga terungkit.
(aji)






























