Lonjakan harga energi akibat perang di Iran telah memicu risiko baru bagi kedua target kebijakan The Fed. Setelah mempertahankan suku bunga tetap awal bulan ini, beberapa pejabat The Fed mulai menyuarakan kekhawatiran baru terkait inflasi, sementara sebagian lainnya memilih pendekatan yang lebih sabar dalam menilai dampak perang yang kini telah memasuki bulan kedua.
"Ketidakpastian seputar jalur inflasi di masa depan masih sangat tinggi," tegas Williams.
Ia memprediksi inflasi utama akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, didorong oleh kenaikan signifikan harga energi. Namun, ia memperkirakan tren ini akan berbalik sebagian pada akhir tahun ini, dengan asumsi konflik di Timur Tengah mereda dan harga kembali turun. Williams memproyeksikan inflasi akan berada di level 2,75% pada akhir tahun 2026.
Gubernur The Fed New York tersebut memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 2,5% tahun ini, didukung oleh kebijakan fiskal, kondisi keuangan yang menguntungkan, serta investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan "sinyal yang beragam dan tidak biasa," ia memprediksi tingkat pengangguran akan sedikit menurun seiring pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Sebelumnya pada hari Senin, Gubernur The Fed Jerome Powell juga menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak ekonomi secara penuh dari perang di Iran, dan menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini tetap berada di "posisi yang baik."
(bbn)





























