Logo Bloomberg Technoz

“Pasar masih menunggu perkembangan risiko geopolitik di Timur Tengah, data ekonomi global dan sentimen domestik,” kata Reyhan.

Sementara itu, MNC Sekuritas menyematkan level support pada 7.022 dan 6.917. Adapun, resistance berada di level 7.302 dan 7.434.

Ekonom Panin Sekuritas Muhammad Zaidan menambahkan level IHSG saat ini belum mencerminkan seluruh risiko imbas perang di Timur Tengah.

Apalagi, Zaidan menambahkan, pergerakan IHSG belakangan akan ditentukan oleh rilis data harga bahan bakar minyak (BBM) periode April 2026.

“Potensi kenaikan harga BBM non-subsidi ini pun bisa turut mempengaruhi sentimen pasar,” kata Zaidan.

Menurut dia, fundamental ekonomi domestik relatif memburuk di tengah tekanan harga minyak dunia dan melemahnya rupiah.

Indikasi penguatan Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) belakangan juga menyiratkan aliran likuiditas menuju aset-aset di AS, ketimbang aliran dana ke emerging market seperti Indonesia.

“Kalau melihat yield SBN yang terdorong naik, dan bila konflik yang terjadi tetap sustain dan menjaga yield di level yang tetap tinggi, ini dapat menekan biaya pinjaman korporasi ya, terutama melalui penerbitan obligasi,” kata dia.

Sebelumnya, IHSG ditutup di zona merah dengan terdepresiasi 0,08% atau 5,38 poin di posisi 7.091,67 pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026).

Saham–saham keuangan, saham barang baku, dan saham properti menjadi pemberat IHSG dengan terkoreksi 1,16%, 0,79%, dan 0,45%, disusul oleh pelemahan pada saham infrastruktur yang turun 0,3%.

Sedang, saham–saham energi solid di zona hijau dengan penguatan 2,18%.

Mengutip Bloomberg News, bursa saham Asia diprediksi akan mengikuti pelemahan bursa AS pada perdagangan Selasa (31/3), memperpanjang aksi jual akibat kekhawatiran eskalasi perang di Iran.

Di sisi lain, harga obligasi pemerintah AS (Treasury) menguat setelah Gubernur Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell meredam kekhawatiran risiko inflasi jangka pendek akibat lonjakan harga energi.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong terpantau melemah, sementara Australia bergerak naik tipis.

Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup pada level terendah sejak Agustus dan kini hanya terpaut kurang dari 1% dari zona koreksi teknis. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus melanjutkan kenaikan pada pembukaan pagi ini. Dolar AS menguat pada Senin.

Obligasi AS mulai pulih dari tren penjualan bulanan terburuknya sejak 2024 setelah Jerome Powell menyatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali. Pernyataan ini memicu pedagang untuk menghapus taruhan pada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Ekspektasi inflasi dinilai "tetap terjangkar dengan baik di luar jangka pendek," ujar Powell pada Senin. Ia menambahkan bahwa meskipun pembuat kebijakan mungkin perlu merespons dampak konflik, langkah tersebut belum diperlukan untuk saat ini.

Imbal hasil obligasi Australia dan Selandia Baru turun pada awal perdagangan Selasa, mengikuti pergerakan obligasi AS.

“Nada tenang Powell bersama fokus pasar terhadap risiko pertumbuhan akibat harga minyak yang tinggi lebih lama membantu mendorong perubahan dalam ekspektasi suku bunga,” kata Krishna Guha dari Evercore. “Peluang pemangkasan suku bunga satu kali atau lebih kini jauh lebih besar dibandingkan peluang kenaikan suku bunga.”

(naw)

No more pages