Pada hari yang sama, militan Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, mengatakan mereka siap untuk tindakan militer langsung jika negara lain bergabung dengan AS dan Israel, dan seandainya Laut Merah digunakan untuk operasi musuh terhadap Iran, atau bila eskalasi terus berlanjut terhadap kelompok-kelompok proksi Teheran, menurut juru bicara Yahya Saree. Hal itu mungkin menjadi ancaman bagi di wilayah Teluk yang putus asa akibat serangan Iran dan telah mempertimbangkan untuk bergabung dengan kampanye AS dan Israel.
Pasukan Pertahanan Israel atau IDF pada Sabtu menyatakan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Yaman ke arah wilayah Israel, dan sistem pertahanan udara sedang beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunda batas waktu bagi Iran untuk menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik.
Perpanjangan 10 hari ini merupakan yang kedua bagi Trump sejak ancaman pada hari Sabtu untuk menghancurkan infrastruktur jika Teheran tidak membuka kembali jalur air penting tersebut, sebuah titik krusial yang menjadi semakin mendesak seiring meningkatnya kelangkaan energi dan komoditas global.
Saham AS anjlok tajam pada Jumat, turun ke level terendah dalam lebih dari tujuh bulan dan membawa indeks Nasdaq 100 yang dipantau ketat ke zona koreksi, seiring eskalasi serangan meskipun Trump terus mendesak Iran untuk menyetujui gencatan senjata.
“Mereka sedang berunding dan ingin mencapai kesepakatan. Sederhananya, militer kita adalah yang terbaik di dunia, jauh di atas yang lain. Iran sedang dihancurkan,” kata Trump kepada wartawan di Miami pada Jumat sore.
(bbn)




























