"Kita impor dari Eropa Timur itu banyak. Ya biasanya memang bisa dialihkan dari situ," tutur Budi, seraya kembali memastikan stok bahan baku impor pupuk dalam negeri masih aman.
Dalam kesempatan lain, PT Pupuk Indoneia (Persero), sebagai perusahaan pelat merah yang memproduksi pupuk juga memastikan pasokan pupuk nasional masih tetap terjaga ditengah kondisi geopolitik saat ini.
Perusahaan memastikan memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani, dengan kapasitas produksi saat ini yang menyentuh 14,5 juta ton/tahun.
"Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk," kata Sekretaris Perusahaan Yehezkiel Adiperwira dalam keterangan resminya, awal Maret lalu.
Saat ini, perseroan memperoleh pasokan bahan baku untuk pupuk NPK, Fosfat (P) dari negara di kawasan Afrikas Utara seperti Maroko, Tunisia dan Aljazair. Sementara itu, pasokan Kalium (K) berasal dari Kanada dan Laos.
Sementara itu, bahan baku lain seperti Sulfur (S) memang berasal dari negara Timur Tengah seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait. Namun, bahan baku tersebut masih bisa didapat dari negara kawasan Eurasi seperti Kazakshtan hingga Uzbekistan.
"Jadi, saya kira dari teman-teman BUMN [Pupuk Indonesia[ belum ada masalah [kesulitan bahan baku]," ujar Mendag Busan.
Dunia Berebut Pupuk
Sementara itu, pemerintah negara-negara di dunia mengaku tengah bergegas untuk mengamankan pasokan unsur hara atau pupuk tanaman penting menjelang penanaman musim semi, karena perang di Timur Tengah mencekik aliran komoditas dan memperkuat kekhawatiran akan krisis pangan global.
Apalagi, Timur Tengah adalah pemasok vital, kaya akan cadangan mineral dan gas (migas) yang dibutuhkan untuk menghasilkan unsur hara bagi tanaman pokok seperti jagung, gandum, dan beras.
Dengan Selat Hormuz yang secara efektif tertutup, pengiriman telah terhenti karena Iran, AS, dan Israel terus saling menyerang infrastruktur energi. Akibatnya, harga urea — pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan — telah melonjak, dengan pasokan fosfat juga berisiko.
Sebagian besar stok global terikat pada Teluk Persia, dan kepanikan menyebar di seluruh ekonomi pertanian utama.
Eksportir utama pupuk, China dan Rusia, membatasi beberapa penjualan unsur hara tanaman, sementara Amerika Serikat (AS) melonggarkan pembatasan pengiriman untuk memfasilitasi aliran domestik.
India, pembeli urea terbesar, berebut pasokan dan mempertimbangkan tender. Yunani dan Prancis telah memperluas dukungan keuangan untuk para petani, dan di Afrika, Ghana telah meluncurkan program pupuk gratis.
“Para petani tidak seharusnya menanggung beban krisis apa pun,” kata Perdana Menteri India Narendra Modi pada hari Selasa di Parlemen, di mana ia membahas konflik Timur Tengah dan mengumumkan upaya untuk memperkuat cadangan pupuk. “Pemerintah mendukung mereka.”
Awal bulan ini, pemerintahan Trump juga telah mencabut sanksi terhadap pupuk Venezuela untuk "mengurangi dampak pada petani Amerika," menurut juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengutip Bloomberg News.
Perusahaan milik negara Kolombia, Ecopetrol SA, berupaya mengakses stok yang sama dan mempertimbangkan penawaran untuk Monómeros, pabrik utama di pantai Karibia.
Lebih jauh ke selatan, Brasil meningkatkan pembelian dari Maroko dan negara-negara Teluk sambil menjajaki proyek pupuk dan energi bersama dengan Bolivia, menurut seorang pejabat senior Brasil.
Sebuah undang-undang yang mengurangi pajak atas bahan kimia untuk pupuk juga telah disahkan baru-baru ini, kata Kementerian Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil dalam sebuah catatan.
“Semua orang sedang berburu,” kata Randy Place, analis senior bidang biji-bijian di The Hightower Report.
(lav)



























