Logo Bloomberg Technoz

Eskalasi berlanjut dengan serangan AS–Israel ke Iran, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selat Hormuz tetap terganggu secara de facto, dengan International Maritime Organization mencatat terdapat lebih dari 3.000 kapal terjebak di Teluk Persia. Pada Senin (23/3), Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 5 hari, mengklaim adanya “pembicaraan produktif”, tetapi Iran membantah adanya negosiasi.

Harga Minyak Sangat Volatil 

Brent bergerak dalam rentang US$97–118/barrel selama libur dan per Rabu (25/3) pagi berada di level US$98,54/barrel (-5,7%). Harga minyak sempat anjlok lebih dari -10% ke bawah US$100/barrel setelah pengumuman penundaan serangan oleh Trump.

Harga Emas Terkoreksi Tajam 

Emas mencatatkan penurunan mingguan terburuk sejak 1983 sebesar -11% pada pekan lalu seiring ekspektasi suku bunga The Fed tetap tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi dari harga minyak, penguatan dolar AS, serta aksi profit–taking dan likuidasi posisi pasca–rally +66% selama 2025. Pada Rabu (25/3) pagi, harga emas rebound +2,1% ke level ~US$4.570/oz.

"Banyak variabel yang terakumulasi selama libur Lebaran. Setelah eskalasi konflik sempat berlanjut, pengumuman penundaan serangan oleh Trump memberikan sinyal de–eskalasi yang mendorong penurunan harga minyak dan pemulihan parsial di beberapa pasar, meski sinyal tersebut masih rapuh mengingat Iran membantah adanya negosiasi." 

Walaupun ada pemulihan, level indeks saham global per Rabu (25/3/2026) pagi masih lebih rendah dibandingkan sebelum periode libur Lebaran (18 Maret 2026), dengan S&P 500 turun 0,4%, DJIA turun 0,2%, Hang Seng turun 3,7%.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, sejumlah saham di sektor ini bisa dicermati. 

Saham Batu Bara-CPO-Migas

Selama dinamika konflik tersebut, harga minyak tercatat masih volatil dengan Brent yang bergerak di kisaran US$97-US$118/barel. Hari ini, minyak tersebut berada di level US$98,54/barel atau turun sekitar 10%.

Tetapi, peredaman konflik masih belum memiliki titik kepastian, setelah Iran membantah pernyataan de-eskalasi Trump, yang membuat harga minyak kembali stabil tinggi.

"Kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh kenaikan harga batu bara dan CPO," tutur mereka.

Oleh karena itu, saham-saham sektor batu bara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dapat menjadi pilihan menarik usai Lebaran.

Sementara, disektor CPO, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga dapat menjadi pantauan menarik bagi investor.

Di sektor migas, saham seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga perlu dicermati ditengah volatilitas harga minyak global.

Emas

Di sisi lain, Stockbit juga menyoroti adanya fluktuasi harga harga emas selama libur Lebaran tersebut. Emas mencatatkan penurunan mingguan terburuk hingga 11% sejak 1983 pada pekan lalu..

Hal tersebut seiring dengan ekspektasi suku bunga The Fed tetap tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi dari harga minyak, penguatan dolar AS, dan profit taking dan likuidasi pasca penguatan 66% selama 2025 lalu.

Oleh karena itu, saham seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), dan PT Arcy Indonesia Tbk (ARCI) perlu dicermati.

Market Vectors Index Solutions juga mengumumkan evaluasi unduk indeks saham global Gold Miners (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ) dengan tanggal efektif 20 Maret lalu.

Dalam evaluasi itu, saham EMAS, ARCI, dan PSAB masih ke dalam GDXJ. Evaluasi selanjutnya akan diumumkan pada 11 September 2026 mendatang, dengan tanggal efektif 18 September 2026.

Adapun, pada pembukaan perdagangan pertama usai libur Lebaran hari ini, Rabu, IHSG tercatat sempat melemah terbatas ke level 7.057, sebelum akhirnya rebound hijau kembali pukul 9.20 WIB ke level 7.165,2 atau naik 0,83%.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp4,88 triliun dari sejumlah 8,45 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi yang terbilang 400 ribu kali diperjualbelikan.

Tercatat ada penguatan 388 saham, dan sebanyak 206 saham masih melemah. Sisanya 142 saham stagnan.

(dhf)

No more pages