Harga emas pun genap turun empat hari perdagangan beruntun, mulai 18 hingga 23 Maret. Selama empat hari tersebut, harga ambrol nyaris 12%.
Perang di Timur Tengah malah menjadi beban bagi gerak harga emas. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tersebut meletus sejak akhir Februari lalu.
Perang itu praktis menutup arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur kunci pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump meminta bantuan dari negara-negara sekutu untuk mengamankan jalur tersebut, meski belum mendapat tanggapan positif.
Tidak hanya itu, berbagai fasilitas minyak di Teluk juga terkena serangan. Perkembangan tersebut membuat harga minyak melonjak.
Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent hampir 45%. Pada periode yang sama, harga minyak light sweet melejit nyaris 39%.
Kenaikan harga minyak pada saatnya akan ikut mengerek harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika ini terjadi, maka inflasi akan meninggi sehingga bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Prospek penurunan suku bunga acuan menjadi samar-samar.
Awalnya pasar memperkirakan suku bunga acuan di AS bisa turun sampai tiga kali tahun ini. Namun dengan situasi sekarang, sekali saja mungkin sudah syukur.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)

























