Secara struktural, pasar daging sapi Indonesia memang masih bergantung pada impor, baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging beku.
Ketergantungan ini membuat harga domestik sangat sensitif terhadap fluktuasi global, termasuk harga di negara asal dan pergerakan nilai tukar.
Di sisi lain, momentum Lebaran belakangan ikut mengerek konsumsi daging sapi di pasar domestik.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia, Senin (23/3/2026), harga daging sapi kualitas 1 tercatat naik 0,44% atau Rp650 menjadi Rp148.900 per kilogram.
Sementara itu, daging sapi kualitas 2 naik lebih tinggi sebesar 1,33% atau Rp1.850 menjadi Rp141.350 per kilogram.
Di sisi lain, Djoni mengatakan, industri penggemukan sapi atau feedlot domestik saat ini berada dalam tekanan akibat kenaikan harga sapi hidup dari Australia.
“Kondisi feedlot dalam keadaan sulit karena harga sapi hidup di Australia cenderung naik. Ini membuat pelaku usaha cukup sulit menyusun business plan dalam kondisi yang tidak menentu,” kata Djoni.
Menurut dia, tekanan tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang secara langsung meningkatkan biaya impor sapi hidup.
Di sisi lain, biaya transportasi dan bahan baku pakan juga mengalami kenaikan, sehingga menambah beban operasional pelaku usaha.
Dalam waktu bersamaan, daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih. Djoni menilai pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan serta ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah, turut memengaruhi stabilitas pasar.
“Kombinasi faktor tersebut membuat harga sapi hidup dan volume impor akan menyesuaikan. Artinya, ada tekanan kenaikan harga yang sulit dihindari,” katanya.
(fik/naw)





























