Logo Bloomberg Technoz

"Proposal ini sudah ada di atas meja. Ini membutuhkan satu pilihan yang jelas: pelucutan senjata secara penuh oleh Hamas dan setiap kelompok bersenjata lainnya, tanpa pengecualian. Di musim penuh harapan ini, semoga mereka yang bertanggung jawab membuat pilihan yang tepat bagi rakyat Palestina," tulis Mladenov melalui unggahan di akun X miliknya dalam rangka menyambut Idulfitri.

Hingga Sabtu (21/3), perwakilan Hamas belum memberikan komentar. Pembicaraan mengenai pelucutan senjata ini sempat tertunda sejak pecahnya perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Pejabat AS menyebutkan bahwa Hamas, yang didukung oleh Iran, kemungkinan akan ditawarkan amnesti dalam kesepakatan apa pun asalkan mereka setuju untuk menyerahkan senjata berat maupun senjata ringan, termasuk senapan.

Namun, sumber-sumber yang dekat dengan Hamas menyatakan bahwa kelompok tersebut kemungkinan besar akan menolak menyerahkan senapan mereka. Mereka khawatir akan adanya serangan dari milisi rival di Gaza, yang beberapa di antaranya mendapat dukungan dari Israel. Sejak gencatan senjata Oktober lalu, Hamas dan para rivalnya memang terlibat dalam beberapa bentrokan maut.

Salah satu sumber menambahkan bahwa keberhasilan rencana ini akan sangat bergantung pada apa yang dapat diterima oleh Israel, yang menuntut pelucutan senjata total dari kelompok tersebut. Di sisi lain, beberapa pejabat senior Hamas secara terang-terangan telah menolak segala bentuk pelucutan senjata dalam beberapa bulan terakhir.

Saat ini, Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan menarik pasukannya yang menguasai sekitar separuh wilayah Gaza. Sementara itu, Hamas masih memegang kendali kuat atas separuh wilayah lainnya beserta dua juta penduduknya, yang sebagian besar telah kehilangan tempat tinggal akibat perang dahsyat selama dua tahun terakhir.

Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa tawaran amnesti dan investasi terukur di Gaza diberikan sebagai insentif bagi Hamas. Meski demikian, belum jelas apakah Dewan Perdamaian memiliki dana yang cukup untuk membiayainya.

Pada Februari lalu, Trump berhasil mengumpulkan komitmen bantuan sebesar US$7 miliar dari berbagai negara, termasuk beberapa negara Teluk. Namun, negara-negara donor tersebut kini justru menjadi sasaran serangan Iran seiring meluasnya perang di Timur Tengah. Sumber itu menyatakan bahwa sejauh ini baru sebagian kecil dari dana yang dijanjikan tersebut yang benar-benar terealisasi, tanpa merinci jumlah pastinya.

(del)

No more pages