Tren tersebut juga memunculkan kekhawatiran bahwa langkah The Fed berikutnya justru bisa berupa kenaikan suku bunga. Powell mengakui kemungkinan ini sempat muncul kembali dalam diskusi pekan ini, meskipun ia menambahkan bahwa hal tersebut bukan menjadi skenario utama bagi mayoritas pembuat kebijakan.
Dalam proyeksi terbaru yang dirilis Rabu, para pejabat The Fed tetap memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini berdasarkan estimasi median. Namun, secara mengejutkan mereka merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa The Fed belum terlalu khawatir terhadap dampak pelemahan ekonomi akibat tingginya biaya energi.
Proyeksi Inflasi Naik
Di sisi lain, estimasi inflasi juga mengalami kenaikan. Powell mengaitkan hal ini terutama pada dampak berkelanjutan dari kebijakan tarif. Ia mencatat bahwa tekanan harga sangat persisten pada kategori barang yang paling terdampak oleh pungutan tersebut.
"Pertanyaan apakah kita akan mengabaikan inflasi energi atau tidak, tidak akan muncul sampai kita berhasil menyelesaikan persoalan inflasi inti tersebut," tegas Powell.
Terkait pasar tenaga kerja, Powell menunjukkan optimisme meskipun angka perekrutan yang rendah memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis yang lebih dalam. Ia menunjuk tingkat pengangguran yang tidak banyak berubah sejak September sebagai indikator stabilitas.
Kekhawatiran terhadap kondisi ketenagakerjaan sempat mendorong The Fed memangkas suku bunga sebesar 0,75 poin persentase pada akhir 2025. Kini, sebagian besar pembuat kebijakan menilai suku bunga berada di level yang tidak lagi menahan maupun mendorong pertumbuhan, yang menurut Powell merupakan “posisi yang tepat” saat ini.
“Pasar mengkhawatirkan risiko pertumbuhan sekaligus risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak,” ujar Priya Misra, manajer portofolio di JPMorgan Asset Management. “Tampaknya The Fed lebih khawatir terhadap risiko inflasi, yang mungkin karena angka inflasi masih lebih jauh dari target dibanding tingkat pengangguran.”
Tekanan Politik dan Proses Hukum
Sikap kaku The Fed ini kemungkinan besar akan kembali memicu kemarahan Donald Trump, yang baru saja mendesak penurunan suku bunga pada Rabu pagi.
Powell sendiri saat ini sedang terlibat dalam perselisihan hukum dengan Departemen Kehakiman (DOJ). Ia menyatakan berencana untuk tetap bertahan di The Fed selama investigasi pemerintah masih berjalan. Dokumen pengadilan terbaru mengungkapkan bahwa Powell merasa berkewajiban untuk tetap berada di bank sentral demi mempertahankan independensi institusi tersebut.
Meski masa jabatannya sebagai Ketua berakhir pada Mei mendatang, ia memiliki opsi untuk tetap menjabat di Dewan Gubernur The Fed hingga 2028. Spekulasi mengenai langkah ini meningkat dalam beberapa pekan terakhir seiring berjalannya penyelidikan DOJ.
“Keputusan untuk tidak meninggalkan dewan sampai investigasi Departemen Kehakiman selesai sangat masuk akal secara logika,” ujar Kathy Bostjancic, kepala ekonom di Nationwide. Menurutnya, hal yang paling krusial adalah Powell belum memutuskan apakah ia akan tetap bertahan atau tidak setelah investigasi tersebut tuntas.
Sebagai informasi, DOJ pada Januari lalu mengeluarkan surat panggilan paksa (subpoena) kepada The Fed terkait penyelidikan pembengkakan biaya proyek renovasi gedung. Saat itu, Powell menyebut alasan penyelidikan tersebut hanyalah dalih, dan mengeklaim bahwa penyelidikan sebenarnya dipicu oleh penolakan The Fed untuk menetapkan suku bunga sesuai tuntutan Trump.
(bbn)





























