“Kami yakini bahwa kita sama-sama punya komitmen untuk melakukan pengungkapan kasus ini seterang terangnya. Jadi kita sama-sama punya komitmen, baik itu TNI, Polri, sebagaimana dengan arahan Bapak Presiden untuk melakukan pengungkapan kasus ini dengan terang benderang, yang berdasarkan fakta hukum diperoleh dari proses penyelidikan maupun penyidikan yang dilakukan oleh masing-masing,” ungkapnya.
Di sisi lain, TNI menyampaikan bahwa empat prajurit telah diamankan terkait kasus ini. Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, menyebut mereka berasal dari unsur Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
“Jadi inisialnya NDP pangkatnya Kapten, SL pangkatnya Lettu, inisial BHW pangkatnya Lettu, dan yang terakhir inisial ES pangkatnya Serda,” kata Yusri dalam konferensi pers di Markas Besar TNI, Jakarta, Rabu (18/3/2026).
Ia menjelaskan, keempat prajurit tersebut sebelumnya diserahkan oleh Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis TNI kepada Pusat Polisi Militer TNI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan TNI, Aulia Dwi Nasrullah, memastikan proses penyelidikan internal akan dilakukan secara profesional dan terbuka.
“Kita akan profesional dan akan kita lakukan secara transparan. Artinya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada di lingkungan TNI,” kata Aulia di Balai Media TNI, Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan bahwa penyelidikan dilakukan dengan metode internal TNI secara cermat dan tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan.
“Sehingga ini kita akan lakukan secara profesional, tidak gegabah. Ya artinya metode-metode yang ada di lingkungan kami di TNI, aparat penegak hukum sekarang sedang bekerja,” ujarnya.
Hingga saat ini, proses penyelidikan masih terus berlangsung baik di internal kepolisian maupun TNI.
(dhf)



























