Sementara itu, tren berbeda terlihat di kawasan penyangga seperti Sentul, Jawa Barat. General Manager Aston Sentul Lake Resort & Conference Center, Albert Siregar, menyampaikan bahwa libur Lebaran justru mendorong peningkatan minat masyarakat untuk berlibur singkat atau staycation.
“Memasuki periode libur panjang Lebaran, kami melihat adanya peningkatan minat masyarakat untuk berlibur singkat atau staycation, khususnya dari pasar Jakarta dan sekitarnya. Kawasan Sentul dikenal sebagai destinasi yang relatif dekat dan mudah dijangkau, sehingga menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati suasana liburan tanpa harus melakukan perjalanan jauh,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, peningkatan permintaan biasanya terjadi pada periode H-3 hingga H+3 Lebaran, dengan tingkat okupansi hotel berada di kisaran 70 persen.
“Di Aston Sentul Lake Resort & Conference Center, tren permintaan biasanya mulai meningkat pada periode H-3 hingga H+3 Lebaran, dengan tingkat okupansi yang berkisar di angka sekitar 70%,” jelasnya.
Permintaan tersebut didominasi oleh segmen keluarga yang memanfaatkan momen liburan untuk berkumpul dan beraktivitas bersama. Ia menambahkan bahwa konsep resor dengan fasilitas alam serta aktivitas keluarga menjadi daya tarik utama bagi tamu.
Albert juga menilai momentum libur panjang Lebaran menjadi peluang bagi industri perhotelan di destinasi jarak dekat atau short getaway.
“Kami melihat momentum libur panjang ini sebagai peluang positif bagi industri perhotelan, khususnya untuk destinasi short getaway seperti Sentul, yang sering menjadi pilihan masyarakat untuk berlibur singkat setelah rangkaian aktivitas mudik dan silaturahmi,” ujarnya.
Dengan perbedaan tren tersebut, pergerakan wisatawan selama musim Lebaran menunjukkan pergeseran preferensi, dari pusat kota menuju destinasi yang lebih dekat dan menawarkan suasana rekreasi keluarga.
Pihak Kementerian Pariwisata sendiri mengutarakan bahwa sebanyak 4,2 warga Jakarta tidak mudik Lebaran tahun ini. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada ekonomi. Untuk targetnya, Made masih belum bisa mengungkapkan.
(rtd)





























