Lonjakan harga energi dan indeks dolar AS yang masih berada di level tinggi jadi pengingat bahwa tekanan eksternal belum sepenuhnya reda. Dalam kondisi seperti ini, ruang gerak rupiah menjadi terbatas.
Harga minyak mentah Brent masih menguat 0,23% dan berada di level tinggi US$102 per barel, dan indeks dolar AS sedikit melemah tapi tetap bertahan di level 99,54.
Pergerakan harga minyak yang masih tinggi memberikan sentimen bearish bagi pasar keuangan domestik. Sebab, kenaikan harga minyak bisa memperlebar defisit fiskal, di sisi lain tekanan pada biaya energi ini juga bisa memicu inflasi domestik dan mempersempit ruang kebijakan moneter. Dengan asumsi harga rata-rata minyak dalam APBN yang berada di bawah level pasar hari ini, risiko tekanan fiskal juga ikut meningkat.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan.
"Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri maupun melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan pers setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (17/3/2026).
Saat libur panjang ini, BI juga berkomitmen untuk memantau pergerakan rupiah dan melakukan intervensi bekerjasama dengan BI di New York.
Suku Bunga Acuan
Ketidakpastian geopolitik yang terjadi belakangan juga membuat ruang kebijakan moneter Indonesia tampak semakin sempit. Kemarin, BI mempertahankan suku bunga di level 4,75%, sesuai dengan konsensus pasar.
Harapan akan pelonggaran suku bunga di tengah tekanan untuk mendorong pertumbuhan lebih lanjut, sepertinya harus ditunda.
Menurut Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, setidaknya BI belum akan memangkas bunga acuan hingga Mei.
"Kami belum melihat ruang bagi pemangkasan suku bunga sebelum Mei, saat MSCI akan menentukan apakah pasar saham Indonesia diturunkan ke status frontier," kata Tamara dalam catatannya, (17/3/2026).
Bahkan dia memproyeksikan, jika harga minyak berlanjut atau risiko fiskal domestik kian membesar, peluang penurunan suku bunga sepanjang 2026 mungkin sama sekali tak terjadi.
Sebelumnya, BI sempat membuka sinyal akan mencari momentum untuk melonggarkan kebijakan guna menopang pertumbuhan. Tapi kemarin, BI menekankan bahwa perang Iran telah mempersempit ruang pelonggaran secara global.
Meski BI masih optimis rupiah akan tetap stabil, tapi menurut Bloomberg Economics, rupiah masih rentan terhadap tekanan. "Setidaknya hingga guncangan harga minyak mereda, dan ketidakpastian terkait batas defisit fiskal menemukan kejelasan," kata Tamara.
Ruang Pertumbuhan
BI memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 4,9%-5,7%. Optimisme ini sepertinya akan diuji oleh pasar. Dengan berbagai tekanan yang ada saat ini, sepertinya pertumbuhan di atas 5,2% akan sulit tercapai.
Sebab, lonjakan harga energi dapat berpotensi menggerus daya beli, yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Di sisi lain, ketidakpastian fiskal dan volatilitas pasar juga saat ini membuat ekspansi sektor swasta tertahan.
Meski pemerintah mengatakan bahwa program di sektor sosial membantu menggerakkan perekonomian dan mendorong pertumbuhan, perannya saat ini lebih terlihat sebagai bantalan, daripada pendorong ekspansi yang masif karena kecilnya multiplier efek yang dihasilkan.
Tanpa perbaikan sentimen dan kepastian kebijakan, dengan kondisi yang ada saat ini, tampaknya proyeksi pertumbuhan berisiko bergeser dari optimis jadi realistis, atau bahkan mungkin lebih konservatif.
(dsp)






























