Data ini memberikan gambaran resmi pertama mengenai kondisi ekonomi terbesar kedua di dunia tahun ini, setelah menutup tahun 2025 dengan pertumbuhan terlemah sejak pembukaan kembali pasca-lockdown Covid-19 pada akhir 2022.
Seiring melemahnya konsumsi domestik dan investasi, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melambat menjadi 4,5% pada kuartal keempat dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, dalam dua minggu terakhir, konflik yang meluas di Timur Tengah mengguncang pasar energi dan menyebabkan gangguan baru pada perdagangan. Meski China tidak terlalu rentan terhadap guncangan harga minyak dibandingkan ekonomi utama lainnya di Asia, mesin ekspornya terpapar ancaman terhadap pertumbuhan dan inflasi global.
China biasanya menerbitkan data gabungan Januari dan Februari untuk mengurangi distorsi yang disebabkan oleh waktu libur Tahun Baru Imlek yang tidak menentu.
Investasi properti anjlok 11,1% pada dua bulan pertama dibandingkan tahun lalu, penurunan lebih kecil daripada perkiraan para ekonom sebesar 19,3%. Tingkat pengangguran perkotaan naik menjadi 5,3%, lebih buruk daripada semua perkiraan dalam survei Bloomberg.
Beijing menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahunannya menjadi 4,5%-5%—target paling rendah sejak 1991, meski dari basis PDB yang jauh lebih besar. Meski ekspor secara mengejutkan kuat pada dua bulan pertama 2026, prospek saat ini sebagian bergantung pada durasi dan intensitas perang, yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Apa Kata Bloomberg Economics...
"Pasar mengalami penurunan tajam seiring eskalasi perang Iran. Jika konflik berlarut-larut, gejolak pasar dapat merembet ke ekonomi riil. Bagi China, risiko utamanya bukanlah inflasi. Melainkan guncangan sekunder—penurunan tajam permintaan ekspor global. Hal ini akan menambah tantangan dalam mencapai target pertumbuhan pemerintah."
— David Qu, Eric Zhu, dan Chang Shu.
Sejauh ini, otoritas telah mengambil pendekatan hati-hati, memilih mengamati bagaimana situasi berkembang daripada terburu-buru mengeluarkan kebijakan baru. Awal bulan ini, pemerintah mengumumkan rencana stimulus fiskal yang sedikit dikurangi untuk tahun ini.
Para pemimpin China dikenal karena mampu mencapai target ekonomi yang mereka tetapkan, tetapi bagaimana mereka mencapai target yang lebih moderat tahun ini akan menjadi fokus. Ketergantungan negara yang semakin besar pada ekspor untuk mendorong pertumbuhan memicu ketegangan dengan mitra dagang dan gagal memberikan manfaat bagi rumah tangga.
"Pada Januari dan Februari, indikator ekonomi utama menunjukkan pemulihan yang signifikan, dan perekonomian memulai tahun ini dengan baik," kata NBS dalam pernyataan yang menyertai rilis data tersebut. "Namun, kita juga perlu menyadari bahwa dampak dari perubahan lingkungan eksternal semakin dalam, dan risiko geopolitik terus meningkat."
(bbn)






























