Dia menilai nantinya negara-negara di dunia bakal melakukan penghematan konsumsi minyak dan produk olahannya dan mendiversifikasi sumber impor, sehingga harga minyak global berpotensi kembali turun.
“Nah, harga minyak bisa mencapai US$200/barel itu kalau Selat Hormuz ditutup dalam jangka waktu yang lebih dari 3 bulan atau malah lebih dari 6 bulan. Pada saat yang sama, kilang-kilang minyak di Timur Tengah itu banyak yang dihancurkan, dibombardir, sehingga itu akan memukul suplai minyak global lebih dari 50% dunia,” kata Myrdal ketika dihubungi, Senin (16/3/2026).
“Ini kelihatannya kalau saya lihat sih peluangnya sangat kecil ya. Kalaupun mencapai US$200/barel, sustainability-nya juga akan sangat terbatas,” tegasnya.
Myrdal bahkan optimistis harga minyak mentah yang masih di atas US$100/barel tidak bakal bertahan dalam jangka waktu panjang, sebab kondisi tersebut membuat aktivitas perekonomian global menurun dan membuat permintaan komoditas tersebut juga melandai.
“Itu yang membuat kenapa harga minyak kelihatannya akan kembali turun, dikarenakan demand minyak tidak bisa mengakomodasi suplai yang menurun juga. Jadi dua-duanya menurun ya, suplainya turun, demand-nya turun, terutama suplai yang dari Timur Tengah," terang Myrdal.
Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$103,98/barel pada pukul 9:55 pagi ini di Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 0,3% menjadi US$98,46/barel.
Iran memperingatkan potensi lonjakan tajam harga minyak global hingga US$200/barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan energi dunia di Selat Hormuz.
Mengutip dari Al Jazeera, Minggu (15/3/2026), peringatan tersebut disampaikan oleh juru bicara komando militer Iran yang menyatakan pasar energi global harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak jika konflik regional terus meningkat.
Pejabat militer Iran menegaskan harga minyak sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi global.
Dalam pernyataannya, dia mengatakan dunia harus “bersiap menghadapi harga minyak US$200/barel” jika ketegangan terus berlanjut.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka US$200/barel,” kata juru bicara itu dalam sebuah pernyataan.
“Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini.” ujar Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC.
Ancaman tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Iran sebelumnya juga memperingatkan kapal tanker minyak yang menuju negara-negara yang dianggap musuh dapat menjadi target, sehingga berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat memicu gejolak besar di pasar energi global.
Ketegangan geopolitik di kawasan itu telah memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.
Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak kali ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan negara-negara anggotanya pekan lalu mengumumkan rencana untuk melepaskan 400 juta barel dari cadangan darurat guna membantu meredam lonjakan harga.
Adapun, harga minyak naik hingga 3,3% setelah serangan AS terhadap pusat ekspor utama Iran menandai eskalasi lain dalam perang yang hampir memutus pasokan energi global dari kawasan tersebut.
Brent diperdagangkan sekitar US$106/barel setelah naik lebih dari 40% dalam dua pekan terakhir, sementara WTI sempat mendekati US$101/barel.
Republik Islam Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Arab di Teluk Persia, setelah AS menyerang situs militer di Pulau Kharg, yang menangani sebagian besar pengiriman minyak Iran.
Pengeboman Pulau Kharg semakin memperluas cakupan konflik, yang menurut Badan Energi Internasional pekan lalu telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Lalu lintas melalui Selat Hormuz—jalur maritim vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional—tetap nyaris terhenti sejak pertempuran dimulai.
(wdh)


























