Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, bank sentral China justru berpeluang untuk melakukan pemangkasan suku bunga dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini karena data aktivitas perekonomian China belum terlalu solid dan cenderung bergerak lambat pada dua bulan pertama di tahun ini, meski penjualan ritel dan produksi industri relatif meningkat. 

Sementara itu, Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, dengan kondisi kenaikan harga minyak saat ini yang menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. 

Senin, 16 Maret

China akan merilis data aktivitas ekonomi untuk periode Januari-Februari. Produksi industri diperkirakan tumbuh 5,3% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 5,2%. Sementara itu, penjualan ritel diperkirakan meningkat menjadi 1,9% dari sebelunya 0,9%, meskipun masih menunjukkan konsumsi domestik yang relatif lemah.

Di sisi lain, investasi aset tetap diperkirakan mengalami kontraksi lebih dalam hingga 10,8%, menandakan adanya tekanan yang kuat pada sektor investasi. 

India hari ini juga akan merilis data neraca perdagangan Februari, yang diperkirakan menunjukkan penyempitan defisit menjadi sekitar US$21,8 miliar dari sebelumnya US$34,7 miliar. Defisit yang menyempit ini disebabkan oleh penurunan impor emas dan perak.

Namun, dengan kondisi India yang bergantung pada pasokan energi dari luar membuat negara ini semakin rentan. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, dan harga gas alam melonjak 50%, maka biaya impor bulanan India bisa bertambah sekitar US$5 miliar. 

AS akan merilis data NAHB Housing Market Index yang memberikan gambaran kondisi kepercayaan pengembang perumahan di AS. Indikantor ini penting untuk melihat dinamika sektor properti yang selama ini cukup sensitif terhadap perubahan suku bunga. 

Selasa, 17 Maret

Sejumlah bank sentral akan mengumumkan keputusan suku bunga. Reserve Bank of Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,1% sebagai respons terhadap risiko inflasi yang kembali meningkat akibat lonjakan harga energi. 

Bank Indonesia juga akan mengumumkan keputusan suku bunga yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, dengan cara menjaga selisih suku bunga (interest rate differential). 

Singapura akan merilis data ekspor domestik non-migas ediri bulan Februari. Data ini akan memberikan gambaran mengenai kinerja perdagangan di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekspor Singapura diproyeksikan melambat dibanding Januari, lantaran adanya efek basis rendah dari libur Tahun Baru Imlek. 

AS akan merilis data ADP Weekly Employment Change yang akan memberikan indikasi awal mengenai perkembangan pasar tenaga kerja sektor swasta. Pasar juga akan mencermati New York Fed Service Business Activity, yang mencerminkan kondisi akticitas sektor jasa di wilayah New York.

Kemudian, di AS juga akan keluar data Leading Economic Index, yang akan memberikan gambaran terkait arah perekonomian AS dalam beberapa bulan ke depan. Dari sektor perumahan, perhatian juga akan tertuju pada data Pending Home Sales secara bulanan maupun tahunan, yang mencerminkan aktivitas transaksi rumah yang masih dalam tahap kontrak. 

Rabu, 18 Maret

Korea Selatan akan mengumumkan data tingkat pengangguran Februari, yang diperkirakan tetap stabil di 3%, mencerminkan pasar tenaga kerja yang relatif stabil, meskipun sebagian didukung oleh program penyerapan tenaga kerja dari pemerintah. 

AS akan merilis data MBA Mortgage Applications yang memberikan gambaran permintaan kredit perumahan. Sementara itu, indikator inflasi dari sisi produsen akan tercermin dalam rilis Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir, baik secara bulanan maupun tahunan.

Data ini juga akan dilihat dalam beberapa komponen inti, seperti PPI di luar makanan dan energi. Selain itu, AS juga akan merilis data Factory Orders, termasuk pabrik di luar sektor transportasi. Serta data Durable Goods Orders, termasuk pesanan barang tahan lama di luar transportasi serta pesanan barang modal inti (core capital goods), yang sering digunakan sebagai indikator investasi sektor bisnis. 

Kamis, 19 Maret

Malaysia akan merilis data inflasi dan perdagangan edisi bulan Februari. Sebagai eksportir energi, Malaysia sepertinya lebih siap menghadapi gejolak pasar energi global. Pemerintah Malaysia juga terlihat mengambil langkah untuk menjaga inflasi tetap terkendali, termasuk dengan meningkatkan subsidi bahan bakar. 

Bank of Japan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter. Bank sentral Jepang ini diperkirakan akan menahan suku bunga di 0,75%. 

Bank sentral Taiwan juga diperkirakan masih tetap mempertahan suku bunga acuan di 2% demi menjaga kondisi domestiknya yang terkena dampak kenaikan harga energi. Meski begitu, Taiwan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, ditopang oleh investasi global di sektor kecerdasan buatan dan semikonduktor, membuat risiko kebijakan akan mulai bergeser dari pelonggaran menjadi pengetatan dalam beberapa waktu ke depan. 

Selandia Baru akan merilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV yang diperkirakan tumbuh 0,5% secara kuartalan, melambat 1,1% pada kuartal sebelumnya. 

Australia akan merilis data ketenagakerjaan yang diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 15.000 pekerjaan pada Februari, lebih rendah daripada kenaikan Januari yang sebesar 17.800. 

AS akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis dini hari. The Fed akan mengumumkan suku bunga acuan federal funds rate, serta kebijakan lain seperti suku bunga atas cadangan bank (Interest on Reserve Balance). Selain itu, pasar juga akan mencermati median suku bunga The Fed untuk tahun berjalan yang menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.  

Jumat, 20 Maret 

China akan merilis data Loan Prime Rate (LPR) yang diperkirakan tetap stabil. Suku bunga pinjaman acuan tenor 1 tahun diproyeksikan bertahan di level 3%, sementara tenor 5 tahun diperkirakan tetap di level 3,5%. Meski begitu, pasar masih melihat peluang adanya pemangkasan suku bunga oleh otoritas moneter China dalam beberapa waktu ke depan seiring upaya untuk memulihkan ekonomi domestiknya yang masih lesu. 

Bloomberg akan merilis data Survei Ekonomi AS edisi Maret. Pertumbuhan PDB AS diperkirakan sedikit meningkat menjadi 2,5% pada 2026, lalu pada 2027 diproyeksikan berada di 2% pada 2027 hingga 2028. 

(dsp/aji)

No more pages