Logo Bloomberg Technoz

Harga 12% dari Brent

Menurut Djoko, dalam tahap negosiasi terakhir yang berlangsung di Singapura dan Tokyo, pihak penjual dan pembeli telah menyampaikan proposal harga final masing-masing. Selisih penawaran harga di antara kedua pihak saat ini makin kecil.

“Perbedaan harga yang diajukan tinggal sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent,” kata dia.

Adapun, penawaran harga dari para calon pembeli berada di kisaran rata-rata sekitar 12% dari harga minyak Brent.

Sementara itu, konsorsium penjual LNG yang terdiri dari operator proyek Inpex, bersama Pertamina dan Petronas, menawarkan harga di atas asumsi harga yang digunakan dalam dokumen pengembangan proyek.

Dalam dokumen rencana pengembangan atau plan of development (PoD) proyek Masela, sekitar 60% produksi LNG direncanakan untuk pasar ekspor dan 40% untuk kebutuhan domestik.

SKK Migas menargetkan keputusan kesepakatan harga dapat dicapai paling lambat bulan depan.

Selanjutnya, perjanjian awal atau head of agreement (HOA) maupun perjanjian jual-beli gas (PJBG) yang bersifat mengikat ditargetkan dapat ditandatangani pada forum industri migas IPA Convention and Exhibition pada Mei 2026.

Djoko menambahkan setelah penandatanganan kontrak penjualan LNG, tahap berikutnya adalah negosiasi dengan lembaga keuangan untuk pembiayaan proyek Abadi LNG di Masela.

Pemerintah menargetkan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) proyek tersebut dapat dicapai pada Desember 2026.

Ilustrasi Blok Masela (Bloomberg Technoz/Diolah)

Proyek LNG strategis

Proyek LNG Abadi di Blok Masela merupakan salah satu proyek gas terbesar yang tengah didorong pemerintah untuk meningkatkan produksi gas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar LNG global.

Proyek ini dioperasikan oleh Inpex dengan partisipasi Pertamina dan Petronas.

Lapangan gas Masela diperkirakan memiliki cadangan sekitar 18,4 triliun kaki kubik (TCF) dengan kapasitas produksi LNG yang direncanakan mencapai sekitar 9,5 juta ton per tahun (mtpa), disertai produksi gas pipa dan kondensat.

Proyek ini sempat mengalami sejumlah penundaan, antara lain akibat perubahan skema pengembangan dari fasilitas terapung (FLNG) menjadi kilang LNG darat di Maluku serta proses negosiasi komersial dengan calon pembeli LNG.

Pemerintah sebelumnya juga memberikan perpanjangan waktu kepada operator untuk menyelesaikan berbagai aspek komersial proyek, termasuk kontrak penjualan gas.

Selain proyek Masela, SKK Migas juga menyoroti pengembangan lapangan gas Natuna D-Alpha yang hingga kini belum terealisasi. Lapangan tersebut saat ini dioperasikan oleh Kufpec, perusahaan hulu migas milik negara Kuwait.

Natuna D-Alpha disebut memiliki cadangan gas sekitar 165 triliun kaki kubik (TCF), dengan kandungan karbon dioksida sekitar 72% dan metana sekitar 28% atau setara sekitar 46 TCF gas yang dapat dimanfaatkan.

(fik/wdh)

No more pages