Meskipun pengembalian pajak (tax refunds) dan pertumbuhan upah yang stabil diharapkan dapat menopang keuangan konsumen dalam beberapa bulan mendatang, para ekonom melihat adanya risiko besar terhadap pengeluaran akibat ancaman inflasi yang lebih tinggi dan terbatasnya perekrutan tenaga kerja.
Pejabat Federal Reserve diperkirakan luas akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan kebijakan minggu depan. Namun, tekanan inflasi yang berkelanjutan dapat menunda rencana pemangkasan suku bunga—langkah yang terus-menerus dituntut oleh Presiden Donald Trump.
Di pasar keuangan, indeks S&P 500 berbalik melemah setelah sempat menguat di awal perdagangan, sementara imbal hasil obligasi Treasury dua tahun bergerak lebih rendah.
Laporan dari Biro Analisis Ekonomi menunjukkan konsumen mulai mengerem belanja barang setelah musim liburan Januari, namun tetap mengeluarkan uang untuk layanan penting seperti kesehatan. Kelompok masyarakat kaya sejauh ini masih mampu mempertahankan level pengeluaran mereka, sementara kelompok berpenghasilan rendah mulai menghadapi tekanan finansial yang nyata.
"Layanan kesehatan, perumahan, dan asuransi adalah kategori belanja teratas pada Januari," kata Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union. "Namun tentu saja, semua data ini sekarang terasa seperti cerita lama (karena situasi perang)."
Pendapatan masyarakat, baik sebelum maupun setelah disesuaikan dengan inflasi, meningkat pada awal tahun, sebagian karena penyesuaian tahunan biaya hidup bagi penerima tunjangan Social Security. Tingkat tabungan melonjak paling besar dalam setahun, mengindikasikan sebagian rumah tangga memilih menyimpan tambahan pendapatan daripada membelanjakannya.
Pemerintahan Trump sebagian mengandalkan peningkatan pengembalian pajak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada 2026. Namun, jika perang mendorong harga minyak bertahan di kisaran US$83 per barel atau lebih sepanjang tahun, keuntungan rata-rata rumah tangga dari pengembalian pajak tersebut bisa terhapus, menurut Anna Wong, kepala ekonom AS di Bloomberg Economics. Harga minyak Brent diperdagangkan sekitar US$100 per barel pada Jumat.
Kenaikan kuat inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) pada Januari terutama didorong oleh kenaikan harga layanan. Ukuran inflasi layanan yang tidak memasukkan energi dan perumahan — salah satu indikator yang banyak diperhatikan — meningkat dengan salah satu laju tercepat dalam setahun.
Laporan tersebut menegaskan bahwa dua ukuran utama inflasi AS telah menunjukkan perbedaan tren dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi inti PCE tercatat naik 3,1% pada Januari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tertinggi dalam hampir dua tahun.
Sementara itu, data terpisah menunjukkan pesanan barang tahan lama pada Januari relatif tidak berubah, mencerminkan penurunan tajam pada kategori pertahanan yang cenderung berfluktuasi. Pesanan barang modal non-pertahanan di luar pesawat juga hampir tidak berubah setelah lonjakan kuat pada akhir 2025.
Data lain yang dirilis Jumat menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS meningkat pada Januari sementara angka pemutusan hubungan kerja menurun, menandakan permintaan tenaga kerja sempat membaik sebelum pasar tenaga kerja kembali menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Peritel mulai dari Walmart Inc hingga Home Depot Inc menyampaikan kekhawatiran terhadap ketahanan belanja konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar tenaga kerja yang rapuh. Perusahaan lain juga menyoroti potensi tekanan dari konflik di Timur Tengah. Tingginya biaya hidup yang terus bertahan juga diperkirakan menjadi isu utama bagi para pemilih dalam pemilu paruh waktu tahun ini.
(bbn)

























