Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024, dari total 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen pasien menjalani terapi hemodialisis. Sementara terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya digunakan sekitar 2 persen pasien, dan transplantasi ginjal masih berada di bawah 1 persen.
KPCDI menilai dominasi hemodialisis tersebut berpotensi menimbulkan tekanan besar terhadap sistem layanan kesehatan nasional. Selain keterbatasan kapasitas layanan, peningkatan jumlah pasien juga berpotensi memperbesar beban pembiayaan kesehatan.
Data BPJS Kesehatan menunjukkan biaya penanganan penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun pada 2019 dan meningkat menjadi sekitar Rp11 triliun pada 2024. KPCDI menilai tren tersebut dapat terus meningkat apabila tidak ada perubahan strategi layanan ginjal nasional.
Dari sisi kualitas hidup pasien, terapi hemodialisis juga dinilai memiliki tantangan tersendiri. Data Indonesian Renal Registry mencatat angka kematian pasien yang menjalani HD masih tinggi, yakni lebih dari 90 ribu orang pada 2023 dan sekitar 50 ribu orang pada 2024.
Menurut Tony, ketergantungan pada terapi hemodialisis juga akan meningkatkan kebutuhan infrastruktur kesehatan, termasuk penambahan mesin dialisis, ruang layanan, serta tenaga kesehatan yang terlatih.
“Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi,” ujarnya.
Dalam momentum World Kidney Day 2026 yang mengusung tema “Kesehatan Ginjal untuk Semua – Merawat Manusia, Melindungi Bumi”, KPCDI mendorong pemerintah memperkuat sistem edukasi pasien agar setiap penderita gagal ginjal mendapatkan informasi yang lengkap mengenai seluruh pilihan terapi sebelum menjalani dialisis pertama.
Selain itu, KPCDI juga mendorong perluasan akses transplantasi ginjal serta penurunan hambatan biaya agar pasien memiliki pilihan terapi yang lebih luas.
Organisasi tersebut juga menilai pengembangan layanan home dialysis dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan pada fasilitas kesehatan sekaligus menekan beban anggaran negara.
Di sisi lain, KPCDI menekankan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit ginjal, mengingat sebagian besar pasien baru menyadari penyakitnya ketika telah memasuki stadium lanjut.
“Jika tema World Kidney Day tahun ini adalah ‘Kesehatan Ginjal untuk Semua’, maka sistem layanan ginjal di Indonesia juga harus memberikan pilihan terapi yang adil bagi setiap pasien,” ujar Tony.
(rtd)






























