Logo Bloomberg Technoz

"Besar kemungkinan pihak Iran sedang menyesuaikan taktik mereka," ujar Ankit Panda, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di Washington. "Sangat mungkin mereka hanya berupaya mengamankan peluncur dengan memperlambat operasional dan lebih fokus menggunakan drone Shahed."

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, Iran telah meluncurkan lebih dari 2.400 rudal jelajah sederhana Shahed-136 ke berbagai target di kawasan tersebut, dibandingkan dengan setidaknya 789 rudal balistik dan 39 rudal jelajah standar. Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, estimasi Israel menyebut Iran memiliki gudang senjata hingga 2.500 rudal balistik.

Serangan AS dan Israel ditujukan untuk menghancurkan timbunan senjata tersebut sekaligus memprioritaskan penghancuran unit peluncur. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan hambatan yang mencegah Iran menggunakan sisa rudal yang masih ada.

Menurut Komando Pusat AS (Centcom), langkah ini telah membuahkan hasil dengan penurunan lebih dari 80% serangan rudal balistik dan Shahed oleh Iran. Becca Wasser dari Bloomberg Economics mencatat bahwa jumlah rudal balistik yang ditembakkan ke target di kawasan Teluk telah stabil di angka rata-rata 21 rudal per hari selama tiga hari terakhir.

Meski estimasi Israel menyebut hingga 80% pertahanan udara Iran telah hancur, keberadaan senjata yang sulit dideteksi seperti rudal 358 tetap menyulitkan operasi udara. Rudal ini mampu diluncurkan dari kendaraan rel kecil yang mudah disembunyikan.

Senjata ini, yang juga digunakan oleh Houthi di Yaman, menggunakan pencari inframerah dan dapat terbang dengan pola tetap di udara hingga menemukan target. Karena tidak menggunakan radar, pesawat tempur musuh kemungkinan besar hanya memiliki sedikit waktu peringatan sebelum serangan terjadi.

(bbn)

No more pages