Logo Bloomberg Technoz

Josua menjelaskan kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Sebelumnya, bank sentral diperkirakan masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini, namun skenario tersebut bisa berubah jika tekanan global meningkat.

Ia menambahkan perlambatan ekonomi akibat gejolak global pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap sektor perbankan, karena kinerja industri ini sangat bergantung pada aktivitas ekonomi riil.

Meski demikian, ia menilai risiko perbankan secara umum masih relatif terkendali. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kredit berisiko di industri masih berada di kisaran 9% pada awal tahun ini, lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir 2023.

"Namun kami melihat bahwa dari sisi kondisi global ini memang akan cukup terpengaruh tadi kalau sekiranya perang di Timur Tengah ini terus berkepanjangan," tegasnya. 

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank Rudy Basyir Ahmad mengatakan perseroan akan menghadapi tantangan tersebut dengan tetap menjalankan strategi bisnis secara konservatif serta memperkuat manajemen risiko.

Menurutnya, Permata Bank akan meningkatkan pemantauan risiko agar dapat merespons secara cepat apabila terjadi perubahan kondisi ekonomi maupun geopolitik yang berdampak pada industri keuangan.

"Jadi ketika ada perubahan kondisi terutama geopolitik dan ekonomi yang berdampak cukup besar di industri keuangan Indonesia, harapannya kita bisa mengidentifikasi  itu secara cepat, dan merumuskan mungkin action-action yang diperlukan untuk memitigasi dampaknya terhadap perbankan," tuturnya. 

(ell)

No more pages